Tragedi SMAN 72 Jakarta: 5 Langkah Penting Pendampingan Anak Korban Bullying Menurut Psikolog

Kasus Ledakan SMAN 72: Ini 5 Cara Dampingi Anak Korban Bullying
Petugas Densus 88 melakukan olah TKP di Masjid SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pasca ledakan yang diduga terkait aksi teror, Sabtu (8/11/2025). (Dok. Ist)

Anak perlu merasakan bahwa orangtuanya adalah tempat yang aman untuk berbagi perasaan tanpa takut disalahkan.

“Orangtua dapat memberikan dukungan emosional kepada anak yang menjadi korban bullying dengan mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi dan memberikan rasa aman,” ungkap Meity saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (11/11/2025).

Sikap terbuka dan empatik ini membuat anak merasa diterima. Mereka pun lebih mudah mengekspresikan rasa takut, marah, atau sedih yang dialami.

2. Tunjukkan Empati dan Pastikan Anak Tidak Sendirian

Meity menuturkan, empati orangtua memiliki pengaruh besar terhadap pemulihan psikologis anak.

Saat korban merasa tidak sendirian, beban emosional yang ditanggungnya akan berkurang.

“Penting untuk menunjukkan empati dan pengertian, serta pastikan anak tahu bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi situasi tersebut,” ujarnya.

Orangtua bisa memvalidasi perasaan anak. Misalnya, dengan kalimat sederhana seperti, “Mama tahu kamu pasti sedih,” atau “Papa mengerti itu pasti tidak mudah buat kamu”.

3. Ajarkan Cara Mengelola Emosi dengan Positif

Setelah anak mulai terbuka, orangtua harus mengarahkan pada cara-cara sehat mengelola emosi.

Baca Juga: Pelaku Ledakan SMAN 72 Dikenal Suka Video Perang, Benarkah Korban Bully?

Meity menjelaskan, marah dan frustrasi adalah hal yang wajar. Namun, emosi tersebut harus disalurkan dengan cara yang tepat.

“Orangtua juga bisa mengajarkan cara-cara positif untuk mengelola perasaan marah atau frustrasi yang timbul akibat perundungan, seperti berbicara dengan orang yang dipercayai atau melakukan aktivitas yang menenangkan,” kata Meity.

Beberapa aktivitas seperti menulis jurnal, berolahraga, atau melakukan hobi dapat membantu.

Tujuannya adalah agar anak tidak menumpuk emosi negatif yang bisa berubah menjadi ledakan amarah, seperti Dampak Bullying Anak di SMAN 72.

4. Libatkan Pihak Sekolah dan Profesional

Psikolog yang berpraktik di Rumah sakit Hasanah Graha Afiah (HGA) Depok ini menyebutkan, penanganan bullying tidak bisa dilakukan sendiri oleh keluarga. Sekolah dan profesional kesehatan mental perlu dilibatkan.

“Orangtua perlu melibatkan pihak sekolah atau profesional seperti psikolog untuk memberikan dukungan lebih lanjut dan mencari solusi agar anak tidak merasa terjebak dalam lingkaran kekerasan,” jelasnya.

Keterlibatan ini penting untuk memastikan anak mendapatkan perlindungan dan dukungan menyeluruh.

5. Bantu Anak Membangun Kembali Rasa Percaya Diri

Pendampingan dari orangtua tidak hanya berhenti pada tahap mencari solusi.

Ini juga berarti membantu anak pulih secara emosional dan sosial.

“Pendampingan ini membantu anak merasa dihargai dan memiliki cara yang lebih sehat untuk menghadapi bullying serta dampaknya,” ujar Meity.

Orangtua dapat membantu anak kembali bersosialisasi, mendukung minatnya, dan memberi penguatan positif.

Langkah-langkah ini akan membuat anak kembali percaya bahwa dirinya berharga dan mampu menghadapi tantangan dengan cara yang sehat.

(*Drw)