Daftar 18 Proyek Hilirisasi, dari Bauksit Mempawah Hingga Aspal Buton

Aktivitas penambangan bijih bauksit di salah satu lokasi tambang di Indonesia. Inalum berencana melakukan akuisisi tambang bauksit milik Antam di Kalimantan Barat untuk mengamankan pasokan bahan baku smelter.
Aktivitas penambangan bijih bauksit di salah satu lokasi tambang. (Dok. Ist)

DME diproyeksikan sebagai pengganti pemenuhan kebutuhan Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang saat ini masih didominasi oleh impor.

Bahlil menegaskan pentingnya pembangunan industri energi domestik agar kebutuhan energi nasional dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Kita tahu bahwa tadi kita baru habis resmikan Cilegon, itu kita membutuhkan LPG kurang lebih sekitar 1,2 juta ton per tahun. Maka konsumsi kita nanti ke depan, di 2026, itu sudah mencapai hampir 10 juta ton LPG. Tidak bisa kita lama, kita harus segera membangun industri-industri dalam negeri,” tandasnya.

Rincian 18 Proyek Hilirisasi

Berikut adalah detail 18 proyek hilirisasi yang direncanakan untuk dibangun:

  1. Industri Smelter Aluminium (Bauksit): Lokasi di Mempawah, Kalimantan Barat. (Investasi Rp60 T; 14.700 naker).
  2. Industri DME (Batu Bara): Lokasi di Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Pali, Banyuasin. (Investasi Rp164 T; 34.800 naker).
  3. Industri Aspal: Lokasi di Buton, Sulawesi Tenggara. (Investasi Rp1,49 T; 3.450 naker).
  4. Industri Mangan Sulfat: Lokasi di Kupang, NTT. (Investasi Rp3,05 T; 5.224 naker).
  5. Industri Stainless Steel Slab (Nikel): Lokasi di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. (Investasi Rp38,4 T; 12.000 naker).
  6. Industri Copper Rod, Wire & Tube (Katoda Tembaga): Lokasi di Gresik, Jawa Timur. (Investasi Rp19,2 T; 9.700 naker).
  7. Industri Besi Baja (Pasir Besi): Lokasi di Kabupaten Sarmi, Papua. (Investasi Rp19 T; 18.000 naker).
  8. Industri Chemical Grade Alumina (Bauksit): Lokasi di Kendawangan, Kalimantan Barat. (Investasi Rp17,3 T; 7.100 naker).
  9. Industri Oleoresin (Pala): Lokasi di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. (Investasi Rp1,8 T; 1.850 naker).
  10. Industri Oleofood (Kelapa Sawit): Lokasi di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan Timur (MBTK). (Investasi Rp3 T; 4.800 naker).
  11. Industri Nata de Coco, MCT, dkk (Kelapa): Lokasi di Kawasan Industri Tenayan, Riau. (Investasi Rp2,3 T; 22.100 naker).
  12. Industri Chlor Alkali Plant (Garam): Lokasi di Aceh, Kaltim, Jatim, Sumsel, Riau, Banten, dan NTT. (Investasi Rp16 T; 33.000 naker).
  13. Industri Fillet Tilapia (Ikan Tilapia): Lokasi di Banten, Jabar, Jateng, dan Jatim. (Investasi Rp1 T; 27.600 naker).
  14. Industri Carrageenan (Rumput Laut): Lokasi di Kupang, NTT. (Investasi Rp212 M; 1.700 naker).
  15. Oil Refinery: Lokasi di 18 titik (Lhokseumawe, Pontianak, Cilegon, Makassar, dll). (Investasi Rp160 T; 44.000 naker).
  16. Oil Storage Tanks: Lokasi di 18 titik (Lhokseumawe, Pontianak, Cilegon, Makassar, dll). (Investasi Rp72 T; 6.960 naker). Note: Lokasi No. 15 & 16 tersebar di Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung, Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara dan Fakfak.
  17. Modul Surya Terintegrasi (Bauksit dan Silika): Lokasi di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah. (Investasi Rp24 T; 19.500 naker).
  18. Industri Bioavtur (Used Cooking Oil): Lokasi di KBN Marunda, Kawasan Industri Cikarang dan Karawang. (Investasi Rp16 T; 10.152 naker).

Baca Juga: Perkuat Rantai Pasok, Inalum Segera Akuisisi Tambang Bauksit Strategis Antam

(*Red)