3. Hormon Kortisol Mengacaukan Siklus Rambut
Saat Anda “terlalu banyak berpikir” atau cemas, tubuh Anda terus-menerus memproduksi hormon stres utama, yaitu kortisol.
Dalam jangka pendek, kortisol berguna.
Namun, kadar kortisol yang tinggi secara kronis dapat menjadi racun bagi folikel rambut.
Penelitian menunjukkan bahwa kortisol dapat “memerintahkan” folikel rambut untuk keluar dari fase pertumbuhan (anagen) terlalu dini.
Akibatnya, siklus rambut menjadi lebih pendek.
Rambut tidak punya cukup waktu untuk tumbuh panjang dan kuat, sehingga helai rambut yang tumbuh menjadi lebih tipis, lemah, dan lebih cepat rontok.
Inilah yang sering terlihat sebagai penipisan umum atau “sulah”.
4. Trikotilomania (Dorongan Mencabut Rambut)
Ini adalah alasan yang bersifat perilaku (psikologis) namun sangat terkait dengan stres.
Trikotilomania adalah dorongan kompulsif untuk menarik, memutar, atau mencabut rambut sendiri (baik rambut kepala, alis, atau bulu mata).
Bagi banyak orang, “terlalu banyak berpikir”, cemas, atau tertekan adalah pemicu dari perilaku ini.
Tindakan mencabut rambut sering kali dilakukan tanpa sadar sebagai cara untuk meredakan ketegangan atau stres.
Tentu saja, pencabutan paksa yang berulang ini akan menyebabkan area botak (pitak) dan kerusakan folikel permanen jika dibiarkan terlalu lama.
Kesimpulan
Rambut rontok akibat stres adalah sinyal dari tubuh bahwa Anda perlu istirahat.
Kabar baiknya, sebagian besar jenis kerontokan ini bersifat sementara dan rambut dapat tumbuh kembali setelah sumber stres terkelola dengan baik.
Baca Juga: 5 Gangguan Psikis yang Jarang Disadari, Sering Dianggap ‘Stres Biasa’
(*Mira)
















