Ditjenbun Peringatkan Ancaman Ganoderma, Sawit Indonesia Bisa Punah Tahun 2060

Ilustrasi - Jamur ganoderma yang tumbuh pada pangkal batang sawit mengakibatkan pembusukan dan pada akhirnya sawit menjadi roboh/tumbang. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Jamur ganoderma yang tumbuh pada pangkal batang sawit mengakibatkan pembusukan dan pada akhirnya sawit menjadi roboh/tumbang. (Dok. Ist)

Namun, produksi CPO Indonesia cenderung stagnan di tengah meningkatnya kebutuhan dalam negeri, terutama untuk program biodiesel.

Data menunjukkan, kebutuhan biodiesel terus naik dari 11,7 juta ton (2023) menjadi 18,99 juta ton (proyeksi 2026). Akibatnya, volume ekspor diprediksi terus menurun.

Baca Juga: Sawit Indonesia Melawan Isu Deforestasi Eropa

Pada 2023, ekspor masih 31,17 juta ton. Namun pada 2026, dengan total konsumsi dalam negeri 29,45 juta ton, ekspor diperkirakan tinggal 26,63 juta ton, atau terendah sejak tahun 2020.

“Pemerintah akan menjaga supaya produktivitas sawit jangan sampai turun. Sekarang permintaan minyak sawit untuk biodesel semakin meningkat. Dalam kondisi produksi stagnan maka kemungkinan ekspor yang akan berkurang,” katanya.

Kuncinya, kata Baginda, adalah peningkatan produktivitas. Indonesia yang seharusnya menjadi penentu harga dunia, masih terbentur produktivitas rata-rata yang hanya 3,52 ton/ha.

“Kita butuh produktivitas yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor… Masalahnya produktivitas rata-rata masih 3,52 ton/ha. Sekarang tidak usah muluk-muluk produktivitas naik 7-10 ton/ha, bisa menaikkan 5 ton saja sudah bagus. Kalau produktivitas tidak naik sampao 2045 ekspor minyak sawit Indonesia akan turun,” kata Baginda.

(*Red)