Padahal, banyak orang dewasa hidup dengan ADHD yang tidak terdiagnosis.
Pada orang dewasa, gejala hiperaktif sering berkurang dan berganti menjadi gejala inattentive (sulit fokus) atau kegelisahan internal.
Mengapa jarang disadari? Gejalanya sering disalahartikan sebagai cacat karakter.
Penderitanya dicap “malas”, “tidak disiplin”, “pelupa”, atau “tidak bisa diandalkan”.
Mereka mungkin kesulitan mengatur keuangan, sering terlambat, atau memiliki rumah yang berantakan, dan menganggap diri mereka “payah” dalam mengatur hidup, padahal itu adalah gejala gangguan neurobiologis.
Gejala yang sering terlewat termasuk sulit memulai tugas (prokrastinasi ekstrem), sering kehilangan barang, mudah terdistraksi, impulsif dalam mengambil keputusan (misal: boros), dan perasaan gelisah internal.
4. Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD)
Banyak orang salah kaprah mengira OCD hanyalah soal kebersihan atau perfeksionis.
OCD yang sebenarnya adalah gangguan yang didorong oleh kecemasan.
Kondisi ini jarang disadari karena terdiri dari dua bagian: Obsesi (pikiran intrusif/mengganggu yang tidak diinginkan, misal: takut terkontaminasi, takut menyakiti orang lain, keraguan berlebihan) dan Kompulsi (tindakan berulang yang dilakukan untuk meredakan kecemasan dari obsesi itu, misal: mencuci tangan berulang kali, memeriksa kunci pintu, berdoa dalam hati).
Penderitanya sering merasa malu dengan pikiran (obsesi) mereka sehingga menyembunyikannya rapat-rapat.
Gejala yang sering terlewat adalah menghabiskan waktu berjam-jam untuk ritual tersembunyi, selalu mencari penegasan ulang dari orang lain, menghindari tempat atau situasi tertentu yang memicu obsesi, dan tingkat kecemasan yang sangat tinggi jika ritualnya dihentikan.
5. Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder)
Ini jauh lebih dari sekadar “rasa malu”.
Pemalu mungkin merasa tidak nyaman di situasi sosial baru tetapi bisa beradaptasi.
Penderita kecemasan sosial mengalami ketakutan yang intens akan penilaian negatif dari orang lain.
Mengapa jarang disadari? Kondisi ini sering dianggap sebagai kepribadian “introvert ekstrem” atau “anti-sosial”.
Penderitanya mungkin berfungsi baik di lingkungan kecil yang aman, tetapi akan melakukan apa saja untuk menghindari situasi sosial seperti presentasi, pesta, atau bahkan makan di depan umum.
Mereka sering dianggap “sombong” karena menolak ajakan, padahal mereka sebenarnya sangat ketakutan.
Gejala yang sering terlewat termasuk gejala fisik yang hebat saat berada di situasi sosial (berkeringat, gemetar, jantung berdebar, mual), terlalu banyak berlatih sebelum berbicara, dan menganalisis interaksi sosial secara berlebihan setelahnya.
Baca Juga: Bukan Hamil, 5 Alasan Siklus Menstruasimu Berantakan
(*Mira)
















