Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi banyak orang, perjalanan kuliah atau meniti karier tidak selalu mulus.
Ada kalanya kita merasa stagnan, tertinggal, atau bahkan gagal.
Namun, sering kali, perasaan terburuknya bukanlah kegagalan itu sendiri, melainkan rasa bersalah yang menusuk saat kita melihat wajah orang tua.
Perasaan ini adalah emosi yang kompleks dan sangat manusiawi.
Baca Juga: Merasa Tertinggal? 5 Lagu Ini Mengerti Kerasnya Prosesmu yang Panjang
Kita merasa telah mengecewakan mereka yang telah berkorban begitu banyak.
Jika Anda sedang merasakannya, Anda tidak sendirian.
Ini adalah 5 alasan psikologis mengapa kita begitu mudah merasa bersalah kepada orang tua ketika hidup kita terasa tidak ada pencapaian.
1. Perasaan ‘Utang Budi’ atas Segala Pengorbanan
Ini adalah akar dari sebagian besar rasa bersalah.
Sejak kecil, kita melihat (atau setidaknya merasakan) pengorbanan mereka.
Mereka bekerja keras, menahan keinginan pribadi, dan menginvestasikan sumber daya waktu, tenaga, dan tentu saja, uang untuk pendidikan dan masa depan kita.
Ketika karier atau kuliah kita lambat, kita tidak hanya merasa gagal untuk diri sendiri; kita merasa telah menyia-nyiakan pengorbanan mereka.
Ada ketakutan internal bahwa “investasi” terbesar mereka tidak menghasilkan apa-apa.
2. Beban Ekspektasi (yang Terucap dan Tak Terucap)
Setiap orang tua memiliki harapan.
Ada yang mengucapkannya dengan jelas (“Nanti kamu harus jadi”), namun banyak pula yang menyimpannya dalam hati.
Kita, sebagai anak, bisa merasakan ekspektasi tak terucap itu.
Kita tahu mereka ingin melihat kita “jadi orang”, mandiri secara finansial, dan memiliki status sosial yang jelas.
Ketika kita masih berjuang, kita merasa gagal memenuhi naskah sukses yang mereka harapkan.
Rasa bersalah ini muncul karena kita merasa telah merusak citra ideal yang mereka banggakan.
3. Tekanan dari Perbandingan Sosial
Kita hidup di era perbandingan.
Orang tua kita pun hidup di dalamnya.
















