Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kita sering mendengar fenomena anak muda (Gen Z) yang rela meninggalkan pekerjaan korporat dengan gaji stabil demi mengejar sesuatu yang lebih sesuai dengan passion atau kata hati mereka.
Bagi generasi sebelumnya, pilihan ini mungkin terdengar tidak masuk akal dan berisiko.
Namun, ini bukanlah tren sesaat, melainkan sebuah pergeseran fundamental dalam cara memandang karier dan kehidupan.
Lalu, apa sebenarnya yang mendorong Gen Z untuk lebih memprioritaskan passion daripada sekadar angka di slip gaji? Berikut adalah empat alasan utamanya.
Baca Juga: Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Minum Kopi Pahit Tiap Hari? Ini 7 Manfaat Kopi Tanpa Gula
1. Makna Sukses yang Bergeser: Bukan Lagi Soal Materi Semata
Bagi banyak generasi sebelumnya, tolok ukur sukses seringkali bersifat material: memiliki rumah, mobil, dan jabatan tinggi.
Gen Z, yang tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi dan melihat langsung generasi di atasnya mengalami burnout, mulai mendefinisikan ulang makna sukses.
Bagi mereka, sukses adalah tentang kesejahteraan mental (mental well-being), keseimbangan hidup dan kerja (work-life balance), serta kebahagiaan personal.
Gaji besar yang harus dibayar dengan stres, tekanan berlebih, dan mengorbankan waktu pribadi dianggap sebagai sebuah “kerugian”, bukan keuntungan.
2. Tumbuh di Era ‘Passion Economy‘ dan Ekonomi Kreatif
Gen Z adalah generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh di era internet.
Mereka melihat langsung bagaimana seorang gamer bisa menjadi miliarder, seorang hobiis masak bisa menjadi food vlogger terkenal, atau seorang desainer grafis bisa hidup dari proyek-proyek lepas di seluruh dunia.
Kisah-kisah sukses di era passion economy ini menormalisasi gagasan bahwa hobi dan minat pribadi bisa dimonetisasi.
















