Eco Teologi: Menjawab Krisis Iklim Melalui Pendekatan Spiritual dan Lingkungan

"Mengupas pendekatan eco teologi sebagai solusi krisis iklim, menyoroti peran spiritualitas dan komunitas beragama dalam mengatasi kerusakan lingkungan dan bencana hidrometeorologi."
Mengupas pendekatan eco teologi sebagai solusi krisis iklim, menyoroti peran spiritualitas dan komunitas beragama dalam mengatasi kerusakan lingkungan dan bencana hidrometeorologi. (Dok. Mira/Faktakalbar)

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2020 mencatat lebih dari 1.900 kejadian bencana, dengan 99% di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi.

“Ini adalah bencana yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan dan dampak perubahan iklim, seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Bukan gempa atau tsunami,” tegasnya.

Lebih dari sekadar data ilmiah, pendekatan ini juga menyentuh aspek spiritual dan moral.

Dengan lebih dari 92% penduduk Indonesia mengaku beragama, Hening menyoroti adanya kekosongan peran komunitas beriman dalam aksi penyelamatan lingkungan.

Menurutnya, riset dan pertemuan internasional seperti COP (Conference of the Parties) belum cukup untuk menghentikan laju perubahan iklim karena akar masalahnya adalah keserakahan manusia. Di sinilah peran kelompok beragama menjadi krusial.

“Siapa yang seharusnya mengobati dan mengantisipasi keserakahan ini? Harusnya kelompok orang beragama,” ujarnya.

Seruan ini akhirnya mendapat pengakuan global pada COP27 di Mesir tahun 2022, di mana untuk pertama kalinya dunia mengakui bahwa kontribusi umat beragama adalah suatu keharusan dalam mengatasi krisis iklim.

Festival S.H.E menjadi salah satu platform untuk menerjemahkan kesadaran global tersebut ke dalam aksi nyata di tingkat lokal, mendorong harmoni antara spiritualitas dan kelestarian bumi.

Baca Juga: Angin Kencang dan Banjir Landa Sejumlah Wilayah, BNPB Rilis Update Penanganan Bencana Terkini

(*Mira)