Kualitas bahan makanan juga dipertanyakan.
Etha menyebut menu pada hari Jumat sebelumnya berupa burger dengan roti yang sudah keras.
“Saya khawatir makin ke sana pihak catering (dapur) akan asal-asalan dalam memberi menu (untuk anak),” ungkapnya cemas.
Kecemasan ini diperparah oleh adanya isu keracunan akibat program MBG di tempat lain.
Nia (bukan nama sebenarnya), wali murid lainnya, mengaku sampai harus berpesan khusus kepada anaknya agar waspada.
“Suka pesan ke anak, kalau pas diicip menunya rasanya sudah asam, jangan dimakan,” kata Nia.
Ia bahkan menilai menu yang disajikan lebih mirip makanan diet orang dewasa ketimbang porsi gizi untuk anak sekolah.
“Bukan menu MBG sih itu, lebih cocok menu diet ibu-ibu,” tuturnya.
Meski sejumlah siswa terpantau tetap menyantap makanan yang diberikan, rentetan keluhan ini menunjukkan adanya masalah dalam pengawasan kualitas dan keamanan program MBG yang baru berjalan enam hari di sekolah tersebut.
Baca Juga: Mahfud ke Prabowo soal Keracunan MBG: Ini Bukan Persoalan Angka, Menyangkut Nyawa
(*Mira)
















