Fathurrazi menilai, sekolah perlu diberikan kewenangan yang lebih besar untuk menilai kualitas makanan yang mereka terima.
Ia juga menekankan pentingnya pembekalan bagi guru dan kepala sekolah tentang standar makanan bergizi, sehingga mereka bisa menjadi filter pertama sebelum makanan tersebut diberikan kepada siswa.
Selain itu, Fathurrazi menyoroti peran penting para Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang telah mengikuti pelatihan selama tiga bulan.
“Pelatihan tiga bulan itu bukan hal yang singkat. Mereka sudah dibekali pengetahuan, sehingga di lapangan harus bisa ikut memastikan makanan yang disajikan aman dan sesuai standar gizi,” jelasnya.
Ia juga meminta agar dapur penyedia makanan lebih teliti dalam setiap proses, mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi.
“Kehati-hatian dapur MBG sangat menentukan. Kalau dapurnya ceroboh, program yang niatnya menyehatkan justru bisa mencelakakan.” ungkap Fathurrazi.
Dengan demikian, kualitas dan keamanan Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat terjamin.
Baca Juga: Soal Keracunan MBG, Pengamat: Yang Terpenting Kondisi di Lapangan
(*R)
















