Setiap kali mesin motor berderu di tikungan sirkuit, jutaan pasang mata di seluruh dunia menoleh ke Indonesia. Ini adalah diplomasi lunak melalui olahraga: cara baru memperkenalkan bangsa tanpa pidato panjang di forum internasional.
Namun, di balik gemerlapnya, Mandalika juga menyimpan tantangan. Sengketa lahan, kualitas aspal, hingga dampak lingkungan menjadi catatan kritis.
Tetapi justru di situlah nilai reflektifnya: kemajuan modern harus dikelola dengan bijak, transparan, dan inklusif. Jika tidak, pembangunan hanya meninggalkan jejak beton, bukan kesejahteraan.
Dua Sisi, Satu Pesan
Mengunjungi Sade dan Mandalika di hari yang sama adalah pengalaman simbolis. Desa Sade mewakili akar budaya; Mandalika mewakili sayap modernitas. Dua-duanya penting, dua-duanya tidak boleh diabaikan.
Pesannya jelas: Indonesia tidak perlu memilih antara tradisi atau modernitas. Kita bisa merawat keduanya. Justru kekuatan bangsa ini ada pada kemampuannya meramu yang lama dan yang baru, yang lokal dan yang global.
Baca Juga: ANAK MUDA, LAPANGAN KERJA DAN KETERBATASAN AKSES
Bayangkan jika promosi Mandalika tidak hanya menonjolkan kecepatan motor, tetapi juga keindahan tenun Sade. Atau jika wisatawan MotoGP diajak mampir ke rumah-rumah adat, mencicipi nasi puyung, dan menyaksikan tarian Sasak.
Sinergi seperti ini akan melipatgandakan nilai tambah: ekonomi bergerak, budaya lestari.
Himbauan untuk Indonesia
Dari excursion ini, ada beberapa pesan penting yang patut dibawa pulang ke kampus masing-masing:
- Budaya adalah identitas: Indonesia punya ratusan desa adat seperti Sade. Mereka harus dijaga, bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai laboratorium hidup tentang kearifan lokal.
- Inovasi adalah kunci daya saing: Sirkuit Mandalika menunjukkan bahwa Indonesia bisa bersaing dengan negara maju. Infrastruktur global harus terus dibangun, tidak hanya di Jawa, tapi merata di seluruh nusantara.
- Sinergi adalah jalan tengah: Jangan biarkan tradisi dan modernitas bertabrakan. Jadikan keduanya saling menguatkan, karena pembangunan yang berkelanjutan lahir dari keseimbangan.
- Partisipasi masyarakat adalah syarat: Baik di Sade maupun Mandalika, keberhasilan hanya terjadi jika warga lokal dilibatkan. Tanpa mereka, pembangunan kehilangan jiwa.
- Indonesia perlu percaya diri: Dengan segala potensi alam, budaya, dan kreativitas, bangsa ini tidak hanya bisa menjadi penonton, tetapi juga aktor utama di panggung dunia.
Baca Juga: MASIHKAH KITA LAPAR?
Penutup: Membawa Pulang Inspirasi
Excursion ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia adalah pelajaran hidup. Dari Desa Sade, kita belajar tentang keteguhan menjaga identitas. Dari Mandalika, kita belajar tentang keberanian tampil di level dunia.
Keduanya adalah cermin masa depan Indonesia: sebuah bangsa yang kuat karena berdiri di atas fondasi tradisi yang kokoh, sekaligus berani terbang dengan sayap modernitas.
Maka, pulang dari Lombok, marilah kita bawa semangat ini ke kampus dan daerah masing-masing. Jaga akar, kibarkan sayap. Hanya dengan begitu, Indonesia bisa tumbuh, lestari, dan disegani dunia.
Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim UNTAN, Ketua ICMI ORWIL KALBAR
*Disclaimer:
Opini ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan kebijakan atau sikap redaksi.
















