Sebaliknya, olahraga di sore atau malam hari dapat membantu tubuh lebih rileks. Hal ini mengurangi respons berlebihan tersebut, terutama pada penderita diabetes tipe 2.
Meskipun begitu, Dr. Cheng-Han Chen, MD, seorang ahli jantung, menegaskan bahwa olahraga pagi tidak selalu berisiko.
Anggapan bahwa olahraga malam adalah yang terbaik untuk semua orang masih perlu penelitian lebih lanjut.
Baca Juga: Mengapa Menari di Tengah Hujan Bisa Jadi Momen Paling Bebas dan Bahagia
Olahraga Malam dan Kualitas Tidur
Salah satu kekhawatiran utama terkait olahraga malam adalah dampaknya pada kualitas tidur.
Menurut Dr. Batiste, hal ini tergantung pada intensitas dan jarak waktu sebelum tidur.
- Latihan berat memerlukan 2 hingga 4 jam waktu pemulihan.
- Olahraga sedang membutuhkan setidaknya 90 menit agar detak jantung, suhu, dan hormon stres kembali normal.
Dr. Kee juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur.
“Tidur sama pentingnya dengan olahraga. Kurang tidur meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung,” tegasnya.
Jadi, olahraga malam bisa sangat bermanfaat asalkan tidak terlalu mepet dengan jam tidur.
Baca Juga: Nyeri Otot Setelah Olahraga: Kapan Boleh Latihan Lagi? Ini Kata Pakar Sains Olahraga
Jika Anda ingin mencoba, Dr. Kee merekomendasikan beberapa aktivitas ringan setelah makan malam yang tidak akan mengganggu tidur, seperti:
- Jalan cepat atau joging santai.
- Bersepeda santai.
- Latihan beban ringan menggunakan resistance band.
- Mengikuti kelas yoga atau aerobik malam.
Pada akhirnya, konsistensi adalah kunci.
Seperti kata Dr. Kee, “Olahraga kapan pun lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Waktu terbaik untuk berolahraga adalah waktu yang paling cocok untuk Anda.
(*Drw)
















