“Sebanyak 98 persen kelapa hibrida di Riau berasal dari Kabupaten Indragiri Hilir. Ini menjadikannya episentrum produksi yang terlalu dominan,” sebut laporan tersebut.
Sementara itu, provinsi lain seperti Jawa Timur, Sulawesi Utara, hingga Maluku Utara hanya berkontribusi di bawah 10 persen.
Padahal, daerah seperti Jawa Timur tetap menjadi produsen penting dengan kontribusi sekitar 240 ribu ton per tahun. Kabupaten Sumenep dan Banyuwangi disebut sebagai wilayah unggulan.
Laporan menyebutkan bahwa kelapa dalam ditanam lebih merata di 33 provinsi, sebagian besar oleh petani rakyat.
Sebaliknya, kelapa hibrida hanya ada di 16 provinsi dan sebagian besar dikelola oleh perusahaan besar swasta (PBS) dan kebun rakyat.
Tren produksi kelapa nasional sendiri terpantau stagnan. Produksi hanya naik sedikit dari 2,74 juta ton pada 2019 menjadi 2,79 juta ton pada 2023.
Dalam lima tahun ke depan, prediksi menunjukkan pertumbuhan yang melandai.
Melihat kondisi ini, pemerintah dan swasta perlu segera mendorong pengembangan produksi kelapa di wilayah potensial lainnya.
“Pemerataan pembangunan dan intensifikasi di daerah seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara bukan lagi pilihan, tapi keharusan,” rekomendasi dalam laporan.
Upaya ini mencakup peremajaan tanaman, diversifikasi varietas, dan integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir agar Indonesia tidak hanya bergantung pada satu wilayah.
(*Red)
















