Opini  

Menyelamatkan Kapuas, Menjaga Kalimantan Barat: Jalan Tengah Melawan Karhutla, Batingsor, dan DLDD

Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah, M.Sc., QAM., IPU. - Ketua Forum DAS Kalimantan Barat (Foto. ICMI Kalbar)
Prof. Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah, M.Sc., QAM., IPU. - Ketua Forum DAS Kalimantan Barat (Foto. ICMI Kalbar)

OPINI – Setiap kali musim kemarau datang, Kalimantan Barat dihadapkan pada kenyataan yang menyesakkan. Kabut asap menebal, sungai mengering, dan kebakaran hutan-lahan (karhutla) kembali menghantui warga.

Di musim penghujan, giliran banjir bandang, puting beliung dan longsor yang dikenal masyarakat lokal sebagai Batingsor melumpuhkan akses antarwilayah, memutus jalur ekonomi, dan merusak kehidupan sosial.

Semua ini bukan gejala alam semata, melainkan peringatan bahwa tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS), khususnya DAS Kapuas sebagai yang terbesar di pulau Kalimantan, berada dalam kondisi genting.

Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (Desertification and Drought Day/DLDD) yang diperingati 17 Juni 2025 lalu menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan peran Kalimantan Barat dalam menjaga keseimbangan ekologis Indonesia.

Forum DAS Kalbar sebagai simpul kolaboratif para pemangku kepentingan melihat bahwa Kalbar, dengan segala tantangan dan potensinya, bisa menjadi contoh bagi provinsi lain dalam menerapkan prinsip land degradation neutrality (LDN) melalui pendekatan nexus yang saling terhubung antar sektor: pangan, air, energi, dan masyarakat.

Baca Juga: Jurnalisme Tak Akan Selamat Jika Terus Hidup di Gelembung

DAS Kapuas: Nadi Ekologis yang Terancam

Kapuas bukan hanya sungai terpanjang di Indonesia. Ia adalah denyut nadi kehidupan 10 kabupaten/kota, dari Kapuas Hulu di hulu hingga Pontianak dan Kubu Raya di hilir. Namun data menunjukkan, tekanan terhadap DAS ini makin meningkat.

Deforestasi dan konversi lahan besar-besaran di bagian hulu dan tengah DAS, ditambah aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI), telah mempercepat degradasi fungsi tata air dan memperparah kerentanan sosial-ekologis masyarakat sekitar.

Ketika hujan ekstrem melanda, daerah yang dahulu mampu menyerap air kini tak lagi berfungsi. Tanah yang padat dan tandus gagal menahan air, sungai meluap, dan Batingsor pun terjadi.

Sebaliknya, di musim kemarau, cadangan air menyusut, menyebabkan kekeringan, penurunan kualitas air, dan mengundang karhutla.

Belajar dari Forum DLDD 2025: Prinsip LDN dan Pendekatan Nexus

Forum DLDD yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan dan mitra nasional menggarisbawahi pentingnya penerapan strategi LDN: avoid, reduce, dan reverse degradasi lahan.

Selain itu, pendekatan nexus antara air–pangan–energi–masyarakat harus menggantikan model silo yang sektoral dan terfragmentasi.

Baca Juga: Tragedi Bunuh Diri, Alarm Sosial di Kota Pontianak

Apa artinya bagi Kalbar dan DAS Kapuas?

Pertama, Kalbar harus menghindari degradasi baru dengan memperkuat perlindungan kawasan lindung, hutan adat, dan gambut.

Kedua, mengurangi degradasi melalui praktik agroforestri, intensifikasi pertanian berkelanjutan, dan regulasi yang tegas terhadap ekspansi sawit serta pertambangan liar.