Umat Katolik Pontianak Gelar Aksi Sosial dan Kampanye Kerukunan Antarsuku
Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-5 Bapak-Bapak Katolik Paroki Maria Ratu Pencinta Damai Pontianak diwarnai dengan aksi bakti sosial dan pesan penguatan toleransi antarsuku pada Sabtu (25/7/2026). Kegiatan kemasyarakatan tersebut diisi dengan…
Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-5 Bapak-Bapak Katolik Paroki Maria Ratu Pencinta Damai Pontianak diwarnai dengan aksi bakti sosial dan pesan penguatan toleransi antarsuku pada Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan kemasyarakatan tersebut diisi dengan aksi donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar, penanaman pohon di Rumah Pelangi, hingga turnamen olahraga tenis meja.
Mengusung tema pelayanan sosial, perayaan keberagaman ini juga dihadiri oleh perwakilan organisasi keagamaan dari paroki lain seperti Stella Maris dan Santo Fidelis Sungai Ambawang.
Pentingnya merawat persatuan antarsuku menjadi sorotan utama mengingat Kalimantan Barat dihuni oleh sedikitnya 24 kelompok etnis yang berbeda.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan yang hadir dalam acara tersebut mengingatkan warga untuk membendung potensi gesekan sosial demi menjaga iklim kondusif daerah.
"Kalimantan Barat memiliki sekitar 24 suku yang hidup berdampingan. Keberagaman ini adalah kekuatan yang harus terus kita rawat. Jangan sampai ada konflik yang merusak persadaraan yang telah terjalin," tegasnya.
Kebanggaan terhadap identitas budaya lokal dinilai harus berjalan selaras dengan rasa memiliki terhadap kemajuan provinsi secara keseluruhan.
"Silakan bangga dengan identitas suku masing-masing, tetapi yang tidak kalah penting adalah bangga menjadi warga Kalimantan Barat. Di sinilah tempat kita hidup, berkarya, dan membangun masa depan bersama," pesannya.
Aksi lingkungan seperti penanaman pohon diharapkan dapat terus berlanjut sebagai kontribusi nyata kelompok keagamaan dalam menjaga ekosistem wilayah perkotaan.
Semangat kerukunan sosial dan kepedulian lingkungan ini menjadi modal utama dalam memperkuat stabilitas masyarakat di kawasan majemuk.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.