Truk Listrik Jadi Opsi Tekan Emisi Karbon
Truk listrik dinilai dapat menekan emisi transportasi Indonesia. Pemerintah didorong memperluas insentif, pembiayaan, dan infrastruktur pengisian daya.
Faktakalbar.id - Penggunaan truk listrik dinilai berpotensi menjadi salah satu solusi untuk menekan emisi karbon dari sektor transportasi di Indonesia. Elektrifikasi kendaraan angkutan barang dinilai penting karena truk memiliki kontribusi emisi yang besar meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan total kendaraan di jalan raya.
Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Arif Wismadi, mengatakan kendaraan berat seperti truk dan bus hanya mencakup 4,09 persen dari populasi kendaraan di Indonesia. Namun, kelompok kendaraan tersebut menyumbang sekitar 40,6 persen emisi dari sektor transportasi.
Menurut Arif, insentif kendaraan listrik perlu lebih diarahkan untuk mendukung elektrifikasi angkutan barang. Selama ini, kebijakan insentif dinilai masih lebih banyak menyasar mobil listrik pribadi, padahal truk berperan penting dalam distribusi barang dari pelabuhan dan pabrik hingga ke pasar serta konsumen.
Arif menyampaikan pandangan tersebut dalam sesi Building the Foundations for Green Freight Corridors: Market Demand and Infrastructure Readiness pada Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026. Ia menilai dukungan pemerintah perlu mencakup harga pembelian kendaraan sekaligus biaya operasional agar pelaku usaha logistik lebih mudah beralih ke armada listrik.
Salah satu kendala utama adalah harga truk listrik yang masih relatif tinggi. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mencatat harga kendaraan tersebut dapat mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan truk konvensional. Kondisi ini membuat investasi awal menjadi tantangan, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Selain subsidi, Arif mendorong perbankan menyediakan skema pembiayaan yang lebih mudah diakses. Menurutnya, skema kredit perlu mempertimbangkan karakteristik operasional truk listrik, termasuk usia baterai yang diperkirakan mencapai delapan tahun. Sementara itu, tenor kredit yang umum digunakan saat ini sekitar lima tahun, sehingga belum sepenuhnya selaras dengan masa penggunaan komponen utama kendaraan.
Infrastruktur pengisian daya juga menjadi tantangan dalam penerapan truk listrik. Sebagian fasilitas pengisian kendaraan listrik yang tersedia masih berdaya rendah dan dirancang untuk mobil pribadi. Karena itu, diperlukan pembangunan titik pengisian di sepanjang jalur logistik antarkota serta di kawasan depo dan bongkar-muat barang.
Pemerintah telah menguji coba konsep green freight corridor atau koridor logistik hijau pada rute Tanjung Priok–Cikarang. Program ini mencakup penggunaan truk listrik, penyediaan infrastruktur pengisian daya, penyesuaian regulasi, dan penyusunan skema insentif untuk mendukung penerapan transportasi barang rendah emisi.
Elektrifikasi truk juga berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar diesel dan ketergantungan terhadap energi fosil. Kajian yang dibahas dalam forum tersebut memperkirakan peralihan armada logistik ke kendaraan listrik dapat menghemat subsidi solar hingga Rp161 triliun. Namun, realisasi manfaat itu bergantung pada kesiapan infrastruktur, skema pembiayaan, dan kemampuan pelaku usaha mengadopsi teknologi baru.
Arif menegaskan bahwa percepatan penggunaan truk listrik membutuhkan kerja sama pemerintah, perbankan, produsen kendaraan, perusahaan logistik, dan penyedia energi. Pengembangan koridor logistik hijau diharapkan menjadi tahap awal untuk memperluas elektrifikasi angkutan barang dan mendukung target penurunan emisi Indonesia.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.