Skandal Suap Seksual Wasit Asing di Korea Selatan Terbongkar, KFA Beri Penjelasan
Investigasi Ungkap Penggunaan Kartu Kredit Federasi untuk Layanan Hiburan Dewasa pada Laga 2011–2012
Skandal suap seksual yang melibatkan wasit-wasit asing pada pertandingan internasional Timnas Korea Selatan kurun 2011–2012 terungkap. KFA tegaskan kini telah memperketat pengawasan internal.
Faktakalbar.id- Dunia sepak bola Asia diguncang oleh terkuaknya skandal "suap seksual" yang melibatkan Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) dan sejumlah wasit asing pada kurun waktu 2011 hingga 2012. Laporan tersebut pertama kali diungkap oleh media Korea Selatan, JTBC, berdasarkan hasil investigasi Kementerian Olahraga Korea Selatan.
Dalam laporan tersebut, KFA diduga membiayai layanan pijat yang berujung pada aktivitas seksual bagi perangkat pertandingan internasional yang memimpin laga Timnas Korea Selatan. Praktik ini terjadi di sedikitnya tujuh pertandingan, termasuk kualifikasi Piala Dunia, kualifikasi Olimpiade, dan laga persahabatan internasional.
Sebanyak 10 wasit diduga terlibat dalam skandal ini. Pengeluaran dinikmati melalui penggunaan kartu kredit resmi milik KFA di panti pijat serta tempat hiburan dewasa di kawasan elite Gangnam, Seoul, dan kota Changwon, dengan nilai mencapai ratusan ribu hingga jutaan Won per transaksi.
Beberapa pertandingan yang disorot dalam laporan investigasi tersebut antara lain:
- 22 September 2011: Usai laga kualifikasi Olimpiade 2012 antara Korea Selatan vs Oman di Changwon, pegawai KFA mencatatkan transaksi 760.000 Won di tempat pijat lokal. Laga ini dipimpin wasit Ravshan Irmatov asal Uzbekistan.
- 29 Februari 2012: Pada laga kualifikasi Piala Dunia 2014 antara Korea Selatan vs Kuwait di Seoul, kartu kredit KFA digunakan dini hari senilai 500.000 Won di panti pijat Gangnam. Laga tersebut dipimpin wasit Yuichi Nishimura asal Jepang.
- 14 Maret 2012: Setelah laga kualifikasi Olimpiade 2012 kontra Qatar, ditemukan transaksi 198.000 Won di tempat pijat kawasan Gangnam.
Seluruh rangkaian insiden tersebut terjadi pada masa kepemimpinan mantan Presiden KFA, Cho Chung-yun.
Menanggapi laporan tersebut, pihak KFA menyampaikan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar 15 tahun lalu dan masa penyimpanan dokumen internal federasi hanya berlaku selama lima tahun. Akibatnya, catatan mendetail mengenai insiden tersebut tidak lagi memadai untuk diverifikasi secara menyeluruh.
Kendati demikian, KFA menegaskan bahwa mekanisme tata kelola dan manajemen internal telah mengalami perubahan signifikan, di mana penggunaan kartu kredit perusahaan dan biaya operasional kini diawasi dengan ketat sesuai standar transparansi.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.