Maestro Tenun Dayak Iban Mariana Renda Terima Penghargaan Nengkebang di Kapuas Hulu
Faktakalbar.id - Maestro penenun Dayak Iban Mariana Renda menerima penghargaan Nengkebang dalam Festival Tenun “Warsa: Perjalanan Waktu” di Rumah Betang Lauk Rugun, Kapuas Hulu.
Faktakalbar.id - Maestro penenun Dayak Iban Mariana Renda menerima penghargaan Nengkebang dalam Festival Tenun “Warsa: Perjalanan Waktu” di Rumah Betang Lauk Rugun, Kapuas Hulu.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kepiawaian dan dedikasi Mariana Renda dalam menjaga tradisi tenun Iban.
Mariana Renda merupakan penenun dari Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu.
Nengkebang merupakan penghargaan tertinggi dalam tradisi tenun Dayak Iban.
Penganugerahan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam Festival Tenun “Warsa: Perjalanan Waktu”.
Festival digelar dalam rangka memperingati Hari Tenun Nasional dan mengangkat warisan tenun tradisional masyarakat Dayak Iban.
Selain penghargaan kepada maestro penenun, festival juga menghadirkan kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan tenun.
Salah satunya adalah penanaman tanaman pewarna alami yang menjadi bagian dari bahan dalam proses pewarnaan kain tenun.
Kegiatan tersebut menunjukkan perhatian terhadap keberlanjutan bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan tenun tradisional.
Festival juga diisi talkshow yang membahas perkembangan seni tenun lokal.
Pembahasan dalam kegiatan tersebut mencakup tantangan yang dihadapi pengrajin serta kebutuhan regenerasi penenun.
Regenerasi menjadi salah satu perhatian karena keterampilan menenun perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Wakil Bupati Kapuas Hulu Sukardi menghadiri festival tersebut mewakili Bupati Kapuas Hulu.
Dalam sambutannya, Sukardi menyampaikan bahwa tenun memiliki nilai yang lebih luas dari sekadar karya dengan nilai estetika.
Menurutnya, tradisi tersebut berkaitan dengan identitas dan kehidupan masyarakat.
“Festival Tenun dengan tema Warsa: Perjalanan Waktu ini bukan sekadar perayaan visual, melainkan pengingat akan jejak sejarah, identitas, dan dedikasi para leluhur serta pengrajin kita yang terus menjaga warisan ini tetap hidup dari generasi ke generasi,” ujar Sukardi.
Festival yang berlangsung di Rumah Betang Lauk Rugun juga memperlihatkan keterkaitan antara tenun dengan kehidupan masyarakat Dayak Iban.
Rumah betang menjadi lokasi yang mempertemukan kegiatan seni tenun dengan adat istiadat dan kearifan lokal.
Pemberian penghargaan kepada Mariana Renda menjadi bagian dari upaya mengapresiasi pengrajin yang berperan dalam mempertahankan motif dan keterampilan tenun Iban.
Karya dan keterampilan penenun menjadi bagian penting dalam keberlanjutan tradisi tenun di tengah perubahan zaman.
Melalui kegiatan tersebut, tenun Iban ditampilkan sebagai bagian dari warisan budaya yang masih dijalankan masyarakat.
Festival Tenun “Warsa: Perjalanan Waktu” sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam tradisi tenun Iban.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.