faktakalbar

Lahan Gambut Purba di Pedalaman Kalimantan Berusia 47.800 Tahun

Faktakalbar.id - Lahan gambut di pedalaman Kalimantan Barat yang berada di utara Putussibau diperkirakan telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu, menjadikannya salah satu temuan penting untuk memahami sejarah hutan hujan tropis dan penyimpanan karbon di kawasan tersebut.

Penulis: Natash Saturday, 15 August 2026 📖 2 menit
Lahan Gambut Purba di Pedalaman Kalimantan Berusia 47.800 Tahun
Ilustrasi lahan gambut di pedalaman Kalimantan Barat yang diperkirakan telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id - Lahan gambut di pedalaman Kalimantan Barat yang berada di utara Putussibau diperkirakan telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu, menjadikannya salah satu temuan penting untuk memahami sejarah hutan hujan tropis dan penyimpanan karbon di kawasan tersebut.

Temuan itu berasal dari penelitian tim ilmuwan University of Oregon, Amerika Serikat, yang mengambil sampel tanah dari dua lokasi daratan dan tiga lokasi pantai yang terhubung dengan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.

Penanggalan karbon menunjukkan usia lahan gambut tersebut jauh lebih tua dari perkiraan awal peneliti dan bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat perkiraan sebelumnya.

Lahan gambut di situs pedalaman Putussibau itu juga memiliki ketebalan sekitar 17 hingga 18 meter, jauh lebih dalam dibandingkan rata-rata lahan gambut di Indonesia yang disebut berada pada kisaran 5 hingga 6 meter.

Peneliti utama, Monika Ruwaimana, menjelaskan gambut terbentuk dari bahan organik seperti kayu dan daun yang terawetkan di dalam tanah karena permukaan air yang tinggi menghambat proses pembusukan.

“Kami mempelajari lahan gambut, sejenis tanah yang terbuat dari bahan organik seperti kayu dan daun,” kata Monika dilansir dari laman resmi University of Oregon.

“Bahan tanaman mati ini terawetkan dengan baik di dalam tanah dan terus menumpuk karena permukaan air yang tinggi mencegah pembusukannya,” jelas Monika.

“Biasanya kedalaman lahan gambut hanya beberapa meter, tapi lahan gambut yang kami temukan ini jauh lebih dalam.”

Daniel Gavin, salah satu peneliti dalam riset tersebut, mengatakan temuan ini memberikan informasi baru mengenai kondisi iklim hutan hujan di wilayah ekuator, termasuk pada periode zaman es.

Kedalaman gambut di lokasi penelitian juga membuat tim memperkirakan kawasan tersebut relatif tidak banyak mengalami gangguan akibat deforestasi dan konversi lahan dibandingkan sejumlah wilayah lain di Indonesia.

“Kami pikir lapisan situs Putussibau akan lebih tipis karena orang sudah membangun jalan di atasnya,” ujarnya.

“Tapi yang mengejutkan, kami menemukan kedalaman 17 hingga 18 meter. Sebagai perbandingan, rata-rata kedalaman lahan gambut di Indonesia adalah 5 sampai 6 meter."

Temuan lahan gambut purba tersebut dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research Letters pada akhir 2020 dan menjadi bagian dari penelitian mengenai sejarah lingkungan serta penyimpanan karbon di wilayah Kalimantan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK