faktakalbar

Ini 7 Penyakit yang Berisiko Meningkat Saat Musim Hujan dan Cara Mencegahnya

Faktakalbar.id - Hujan mulai kembali turun di sejumlah wilayah Indonesia pada akhir September 2026, bersamaan dengan meningkatnya risiko sejumlah penyakit yang berkaitan dengan genangan air, kelembapan, dan perubahan kondisi lingkungan.

Penulis: Wati Monday, 28 September 2026 📖 2 menit
Ini 7 Penyakit yang Berisiko Meningkat Saat Musim Hujan dan Cara Mencegahnya
Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah perlu diikuti dengan kewaspadaan terhadap penyakit yang berkaitan dengan genangan air dan perubahan lingkungan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id - Hujan mulai kembali turun di sejumlah wilayah Indonesia pada akhir September 2026, bersamaan dengan meningkatnya risiko sejumlah penyakit yang berkaitan dengan genangan air, kelembapan, dan perubahan kondisi lingkungan.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mulai memperhatikan kebersihan lingkungan dan kesehatan, meski musim hujan belum berlangsung secara merata di seluruh Indonesia.

Kementerian Kesehatan mencatat sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai saat musim hujan, termasuk demam berdarah dengue, diare, leptospirosis, ISPA, penyakit kulit, gangguan saluran cerna, serta memburuknya penyakit kronis.

DBD menjadi salah satu penyakit yang berkaitan dengan meningkatnya tempat perkembangbiakan nyamuk setelah hujan turun.

Genangan air pada pot, ember, talang, ban bekas, dan wadah terbuka dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes apabila tidak segera dibersihkan.

Karena itu, masyarakat dapat mengurangi risiko DBD dengan menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.

Risiko penyakit juga dapat meningkat ketika hujan deras menyebabkan banjir dan mencemari sumber air.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi diare dan penyakit saluran cerna lainnya, terutama ketika air bersih dan sanitasi sulit diperoleh.

Masyarakat perlu memastikan air untuk minum tetap aman serta menjaga kebersihan makanan dan tangan.

Leptospirosis juga perlu diperhatikan ketika terjadi banjir karena bakteri Leptospira dapat menyebar melalui air atau tanah yang tercemar urine hewan, terutama tikus.

Kontak dengan air banjir menjadi lebih berisiko bagi orang yang memiliki luka terbuka pada kulit.

Penggunaan alas kaki pelindung dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan air yang berpotensi tercemar.

Perubahan kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko ISPA, terutama ketika masyarakat harus berkumpul di ruang tertutup atau tempat pengungsian.

Gejala ISPA antara lain batuk, pilek, dan demam, sedangkan kondisi tertentu dapat disertai sesak napas atau nyeri dada.

Selain itu, paparan air banjir dan kondisi lingkungan yang lembap dapat memicu iritasi, gatal, serta gangguan kulit lainnya.

Masyarakat yang memiliki penyakit kronis juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan karena banjir dapat mengganggu aktivitas dan akses terhadap layanan kesehatan.

Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah, membersihkan saluran air, menghilangkan genangan, mencuci tangan, serta menjaga keamanan makanan dan air minum dapat dilakukan sejak sekarang.

Dengan perubahan cuaca yang mulai terjadi di sejumlah daerah, kewaspadaan terhadap penyakit dapat ditingkatkan tanpa harus menunggu musim hujan berlangsung penuh.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK