faktakalbar

IHSG Tembus 6.500, Analis Wanti-Wanti Profit Taking

Arus Dana Investor Asing Belum Stabil dan Agenda Rebalancing MSCI Bayangi Pergerakan Pasar Saham

Faktakalbar.id - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai rawan mengalami aksi ambil untung atau profit taking pada pekan ini setelah sempat menyentuh level psikologis 6.500. Analis mengingatkan investor untuk mencermati level support dan resistance.

Penulis: Rama 📍 Jakarta Tuesday, 25 August 2026 📖 4 menit
IHSG Tembus 6.500, Analis Wanti-Wanti Profit Taking
Foto Ilustrasi/detik.

Faktakalbar - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai masih rentan dan berpotensi besar mengalami aksi ambil untung atau profit taking oleh para investor pada perdagangan pekan ini. Koreksi sehat ini dinilai wajar mengingat pergerakan indeks komposit tersebut telah berada di level yang terbilang cukup tinggi setelah berhasil menembus dan menyentuh level psikologis 6.500.

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina, memberikan pandangannya terkait dinamika pasar modal terkini. Ia menjelaskan bahwa pencapaian level 6.500 yang sempat tersentuh pada pekan lalu merupakan titik tertinggi dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Kondisi ini sebenarnya menandakan bahwa tren bullish atau penguatan sudah mulai terbentuk di pasar saham domestik.

"Untuk minggu lalu, jadi kalau kita lihat 6.500 itu level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Jadi sebenarnya itu sudah mulai bullish untuk market kita," kata Martha dalam program Obrolan Saham Kompas.com, Senin (24/8/2026).

Sebagai catatan, kinerja IHSG memang terpantau melonjak signifikan dengan menguat sebesar 107,46 poin atau setara 1,68 persen hingga bertengger di level 6.501,58 pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026) pekan lalu. Menurut Martha, salah satu penopang utama yang menggerakkan kenaikan IHSG pada periode tersebut adalah mulai kembalinya arus modal masuk dari investor asing ke dalam pasar saham Indonesia.

Berdasarkan data perdagangan pada pekan ketiga Agustus 2026, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) dengan nilai mencapai sekitar Rp 500 miliar. Situasi ini menunjukkan pembalikan tren yang cukup positif jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya, di mana arus dana asing sempat mencatatkan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai yang terbilang cukup tinggi.

Arus Dana Asing Belum Stabil dan Agenda Rebalancing MSCI

Meskipun demikian, Martha memberikan catatan penting dan mengingatkan para pelaku pasar agar tidak terburu-buru bereforia. Ia menilai bahwa aliran dana masuk dari investor asing hingga saat ini masih belum terbilang stabil atau konsisten. Di samping itu, pergerakan IHSG pada akhir bulan Agustus ini juga akan dibayangi oleh agenda penting berupa pembaruan atau rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Potensi terjadinya aksi ambil untung oleh para pemodal menjadi risiko utama yang patut diwaspadai sepanjang pekan ini, terutama ketika mendekati perdagangan di akhir pekan. "Jadi kita masih melihat bahwa akan rawan profit taking di pekan ini, khususnya nanti di akhir pekan. Ini pun juga sebenarnya kan sudah mulai mengalami penurunan, mengingat level 6.500 juga sudah cukup tinggi. Jadi pekan ini memang lebih rawan untuk profit taking kalau kita lihat," tutur Martha menegaskan.

Kekhawatiran analis tersebut terbukti pada dinamika perdagangan awal pekan, Senin (24/8/2026). Meskipun tren penguatan sempat berlanjut pada sesi pagi hingga IHSG menyentuh titik tertinggi di level 6.544, laju indeks akhirnya tidak mampu bertahan hingga penutupan sesi. IHSG tercatat berbalik arah dan ditutup melemah 32,21 poin atau turun 0,41 persen ke level 6.493.

Lebih lanjut, Martha menuturkan bahwa kelanjutan tren kenaikan IHSG akan jauh lebih sehat dan berkelanjutan apabila disokong secara konsisten oleh aksi net buy investor asing. Sebaliknya, jika IHSG dipaksa menguat saat investor asing justru sibuk melakukan aksi jual bersih, kenaikan harga saham tersebut dikhawatirkan tidak akan bertahan lama dan rentan mengalami guncangan.

"Kalau misalnya terjadi net sell tapi IHSG-nya masih menguat, itu sebenarnya bisa saja terjadi tetapi yang kita takutkan adalah bahwa indeks akan menjadi lebih cepat untuk turun kembali," jelasnya.

Peran Vital Investor Asing dan Ritel di Pasar Modal

Peran investor asing di pasar modal Indonesia memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Martha menjelaskan bahwa pemodal asing memiliki pengaruh yang sangat krusial terhadap arah pergerakan IHSG secara keseluruhan karena mereka masih menguasai porsi kepemilikan saham sekitar 40 persen di lantai bursa Indonesia. Pengaruh dominan ini sangat terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) dengan kepemilikan asing yang masif, terutama di sektor perbankan.

"Jadi ketika mereka melakukan net sell dalam jumlah yang besar, kecenderungannya adalah harga saham-saham tersebut akan tertekan dan merosot turun," ungkap Martha.

Di sisi lain, Martha juga menambahkan bahwa pergerakan IHSG bisa menjadi jauh lebih volatil atau bergejolak apabila kenaikan pasar hanya ditopang oleh aktivitas transaksi investor ritel domestik. Hal ini disebabkan oleh karakteristik investor ritel yang cenderung memiliki horizon atau jangka waktu investasi yang lebih pendek, sehingga mereka akan bergerak lebih cepat untuk melakukan aksi ambil untung saat harga naik tipis.

Menghadapi dinamika perdagangan pada pekan ini, Martha memperkirakan batas bawah (support) IHSG berada di area level 6.400, sementara batas atas (resistance) berada di kisaran level 6.600. Menurut analisisnya, level 6.600 menjadi titik krusial dan krusial yang patut dicermati oleh para pemodal. Jika IHSG mampu menembus batas resistance tersebut secara meyakinkan, maka peluang untuk melanjutkan tren rally penguatan akan terbuka semakin lebar.

"Kalau kita lihat level 6.600 jadi level yang menarik untuk IHSG untuk bisa ditembus. Dan kalau misalnya bisa menembus 6.600, ada kemungkinan besar pergerakan harga untuk terus berlanjut naik," ujarnya.

Namun sebaliknya, kewaspadaan tinggi harus diterapkan oleh para investor apabila IHSG justru terkoreksi dalam dan menembus ke bawah batas level 6.200. Martha memperingatkan bahwa jika level krusial 6.200 tersebut sampai jebol, IHSG berpotensi terseret kembali mengalami penurunan mendalam hingga ke bawah level psikologis 6.000. "Menurut saya sih di bawah 6.200 ya. Jadi kita memang perlu ekstra hati-hati," pungkasnya. (*Drw)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK