faktakalbar

Gambut Putussibau Simpan Karbon dalam Jumlah Besar, Data Nasional Dinilai Perlu Diperbarui

Faktakalbar.id - Temuan lahan gambut sedalam 18 meter di pedalaman Putussibau, Kalimantan Barat, menunjukkan potensi penyimpanan karbon yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya dan mendorong peneliti untuk memperbarui data karbon gambut di Indonesia.

Penulis: Natash Saturday, 15 August 2026 📖 2 menit
Gambut Putussibau Simpan Karbon dalam Jumlah Besar, Data Nasional Dinilai Perlu Diperbarui
Ilustrasi lahan gambut pedalaman Putussibau yang memiliki ketebalan hingga 18 meter dan berpotensi menyimpan karbon dalam jumlah besar. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id - Temuan lahan gambut sedalam 18 meter di pedalaman Putussibau, Kalimantan Barat, menunjukkan potensi penyimpanan karbon yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya dan mendorong peneliti untuk memperbarui data karbon gambut di Indonesia.

Lahan gambut tersebut ditemukan dalam penelitian ilmuwan University of Oregon bersama peneliti dari Indonesia dan berdasarkan penanggalan karbon diperkirakan telah terbentuk sejak sekitar 47.800 tahun lalu.

Ketebalan gambut di lokasi penelitian mencapai 17 hingga 18 meter, sementara rata-rata kedalaman lahan gambut di Indonesia disebut hanya sekitar 5 sampai 6 meter.

Monika Ruwaimana, peneliti utama dalam penelitian tersebut, mengatakan ketebalan gambut di lokasi Putussibau menjadi salah satu temuan yang mengejutkan bagi tim.

“Kami pikir lapisan situs Putussibau akan lebih tipis karena orang sudah membangun jalan di atasnya,” ujarnya.

“Tapi yang mengejutkan, kami menemukan kedalaman 17 hingga 18 meter. Sebagai perbandingan, rata-rata kedalaman lahan gambut di Indonesia adalah 5 sampai 6 meter."

Menurut Monika, kondisi tersebut mengindikasikan kawasan pedalaman yang diteliti relatif tidak banyak mengalami gangguan deforestasi dan konversi lahan dibandingkan wilayah lainnya.

Tim peneliti memperkirakan lahan gambut pedalaman tersebut memiliki peran penting dalam penyimpanan karbon sejak sebelum hingga selama periode zaman es terakhir.

“Lahan gambut pedalaman ini mungkin memainkan peran penting dalam iklim dan penyimpanan karbon sebelum dan selama zaman es terakhir,” ujar Monika.

Temuan tersebut juga menjadi dasar bagi peneliti untuk menyarankan adanya pembaruan terhadap perkiraan jumlah karbon yang tersimpan di Indonesia.

Perkiraan sebelumnya menyebutkan sekitar 9,1 gigaton karbon tersimpan di Kalimantan dan sekitar 25,3 gigaton tersimpan di seluruh Indonesia, tetapi peneliti menilai angka tersebut kemungkinan masih terlalu rendah.

Meski demikian, Monika menekankan bahwa diperlukan lebih banyak data untuk menghasilkan perhitungan karbon yang lebih akurat.

“Lahan gambut pedalaman ini mungkin memainkan peran penting dalam iklim dan penyimpanan karbon sebelum dan selama zaman es terakhir,” ujar Monika.

Lahan gambut menyimpan karbon organik dalam jumlah besar dan berperan dalam siklus karbon, tetapi kerusakan serta kebakaran gambut dapat menyebabkan karbon yang tersimpan dilepaskan ke atmosfer.

“Membakar lahan gambut bukanlah perbuatan yang baik,” ujar Monika.

“Hal ini menimbulkan asap beracun, menurunkan permukaan air, dan melepaskan banyak karbon."

Monika juga menyinggung kebakaran besar yang pernah terjadi di Indonesia sebagai contoh dampak kebakaran gambut terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Kebakaran yang berlangsung selama dua bulan pada tahun 1997 menjadikan Indonesia sebagai penghasil karbon nomor 1 pada tahun itu. Kebakaran tahun 2015 (di Indonesia) juga telah menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas pada setengah juta orang dan menutup bandara di seluruh Asia Tenggara.”

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK