Dua Orangutan Kalimantan Korban Konflik Perkebunan Sawit di Ketapang Dilepasliarkan ke Alam
Faktakalbar.id - Dua individu orangutan kalimantan jantan bernama Adil dan Gigih dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Sabtu (24/10).
Faktakalbar.id - Dua individu orangutan kalimantan jantan bernama Adil dan Gigih dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Sabtu (24/10).
Pelepasliaran satwa yang dilindungi tersebut dilakukan setelah petugas mengevakuasi keduanya dari area perkebunan kelapa sawit di Desa Laman Satong pada Jumat.
Proses pengembalian satwa ke hutan ini melibatkan Kementerian Kehutanan bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia serta unsur TNI dan Polri.
CEO YIARI Karmele Llano Sanchez turut mendampingi langsung proses pengembalian satwa langka tersebut ke alam bebas.
Adil merupakan orangutan jantan berusia lebih dari delapan tahun, sedangkan Gigih diperkirakan berumur lebih dari sepuluh tahun.
Sebelum dikembalikan ke alam bebas, kedua individu satwa ini telah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan oleh tim medis lapangan.
Pemerintah bersama mitra konservasi mengapresiasi keberhasilan upaya penyelamatkan dua satwa yang terancam terisolasi di kawasan perkebunan tersebut.
“Kita gembira karena kita berhasil me-rescue orangutan dari perkebunan kelapa sawit. Namun saat bersamaan kita menjadi sedih karena kita sadar bahwa masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan di mana rumah tempat orangutan tinggal, tempat mereka bermain, tempat mereka hidup kemudian belum dapat dijaga dengan baik oleh kita bersama,” ujar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Keberadaan satwa liar di area perkebunan warga sering kali dipicu oleh berkurangnya luas tutupan hutan alam di sekitarnya.
Kondisi tersebut memaksa mamalia besar seperti orangutan keluar dari habitat asal guna mencari sumber pakan baru.
Tim gabungan memastikan lokasi pengembalian satwa jauh dari pemukiman warga serta memiliki ketersediaan pakan alami yang memadai.
Upaya pelepasliaran ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan populasi orangutan kalimantan di ekosistem aslinya.
Seluruh pihak yang terlibat berkomitmen untuk terus memantau kondisi perkembangan kedua satwa pasca-rehabilitasi singkat di lapangan.
Pemantauan intensif dilakukan untuk memastikan Adil dan Gigih dapat beradaptasi secara optimal dengan lingkungan hutan belantara.
Langkah evakuasi dan pengembalian satwa ini menjadi bukti pentingnya respons cepat dalam menangani konflik satwa dengan manusia.
Konservasi satwa langka membutuhkan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat dan pengelola kawasan di sekitar hutan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.