Dokter Paru Peringatkan Bahaya Karbon Monoksida dari Asap Karhutla, Bisa Picu Kekurangan Oksigen Hingga Kematian
Faktakalbar.id - Dokter spesialis paru Erlina Burhan memperingatkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam waktu lama dapat membahayakan kesehatan, termasuk memicu kekurangan oksigen akibat paparan gas karbon monoksida (CO).
Faktakalbar.id - Dokter spesialis paru Erlina Burhan memperingatkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam waktu lama dapat membahayakan kesehatan, termasuk memicu kekurangan oksigen akibat paparan gas karbon monoksida (CO).
Menurut Erlina, dampak kabut asap terhadap kesehatan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga paparan gas berbahaya yang dapat mengganggu fungsi tubuh.
“Tetapi kalau, saya katakan lagi, kalau ini terus-terusan tidak ada perbaikan itu bukan balita pun, bukan lansia pun, bukan orang asma pun. Orang sehat pun lama-kelamaan akan sakit juga,” kata Erlina, Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan karbon monoksida dapat masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan dan berikatan dengan hemoglobin dalam darah.
Hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen ke jaringan tubuh, sedangkan ikatan dengan karbon monoksida mengurangi kemampuan darah membawa oksigen secara efektif.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan hipoksia atau kekurangan pasokan oksigen pada jaringan tubuh.
“Dengan ini kemudian orang menjadi lemas bahkan gagal organ dan ini berbahaya untuk selanjutnya,” tegas guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.
Erlina mengatakan dampak paparan karbon monoksida dapat menjadi serius, bergantung pada tingkat paparan dan kondisi orang yang mengalaminya.
“Saya enggak nakut-nakuti, tapi pada orang tertentu ini bisa menimbulkan kematian,” ujarnya.
Paparan asap karhutla perlu mendapat perhatian karena asap hasil pembakaran dapat mengandung campuran gas dan partikel yang membahayakan sistem pernapasan.
Risiko kesehatan dapat meningkat ketika seseorang terus terpapar asap tanpa perlindungan yang memadai.
Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
Penggunaan pelindung pernapasan yang sesuai juga menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan partikel berbahaya dari kabut asap.
Meski demikian, masker tidak memberikan perlindungan yang sama terhadap seluruh jenis gas, termasuk karbon monoksida.
Masyarakat yang mengalami sesak napas, pusing, kelemahan berat, atau gejala lain setelah terpapar asap perlu segera mencari pertolongan medis.
Peringatan tersebut menegaskan bahwa dampak kabut asap tidak hanya perlu dilihat dari jumlah kasus ISPA, tetapi juga potensi paparan zat beracun yang dapat mengganggu pasokan oksigen dalam tubuh.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.