333 Titik Panas Terdeteksi di Ketapang dan Kayong Utara, Ancaman Karhutla Kalbar Terkonsentrasi di Selatan
Faktakalbar.id - Sebanyak 333 dari 362 titik panas berkepercayaan tinggi terdeteksi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, pada Senin (21/9).
Faktakalbar.id - Sebanyak 333 dari 362 titik panas berkepercayaan tinggi terdeteksi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat, pada Senin (21/9).
Data tersebut menunjukkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat masih terkonsentrasi di wilayah bagian selatan.
Ketapang menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 294 titik.
Sementara Kayong Utara mencatat 39 titik panas dan Melawi sebanyak 17 titik.
Jika dibandingkan dengan total 362 titik panas yang terdeteksi, sekitar 92 persen berada di Ketapang dan Kayong Utara.
Kondisi tersebut terjadi ketika wilayah Kalimantan Barat masih menghadapi musim kemarau yang meningkatkan potensi munculnya kebakaran lahan dan hutan.
Di Kayong Utara, salah satu lokasi yang terdampak kebakaran berada di kawasan Bukit Peramas.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan bersama petugas, relawan, dan masyarakat turun langsung ke lokasi untuk membantu proses pemadaman.
Medan menuju sejumlah titik api menjadi salah satu kendala dalam penanganan kebakaran di kawasan tersebut.
Petugas harus melewati jalur perbukitan yang tidak rata, berbatu, dan terjal sambil membawa peralatan pemadaman.
“Yang membuat sedikit kesulitan adalah jalur menuju titik api yang tidak rata dan cukup terjal. Karena itu, saya mengingatkan seluruh relawan dan petugas agar tetap berhati-hati,” ujarnya.
Kebakaran di kawasan Bukit Peramas disebut sebagian besar mengenai daun kering dan batang pohon yang mengering selama musim kemarau.
Kondisi tanah yang didominasi tanah mineral membuat proses pemadaman dinilai relatif lebih mudah dibandingkan kebakaran di kawasan lahan gambut.
“Berdasarkan pantauan di lapangan, kebakaran yang terjadi di kawasan Bukit Peramas mayoritas membakar sisa daun kering dan batang pohon yang mengering akibat musim kemarau,” kata Ria Norsan.
Selain kondisi medan, kabut asap juga menjadi kendala dalam penanganan karhutla di sejumlah wilayah.
Jarak pandang di Ketapang dilaporkan kurang dari satu kilometer sehingga operasi pemadaman dari udara belum dapat dilakukan secara optimal.
Kondisi tersebut turut memengaruhi proses verifikasi titik panas dan pergerakan satuan tugas udara di lapangan.
Ria Norsan juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Menurut dia, paparan asap menjadi perhatian terutama bagi anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.