Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bencana banjir seolah menjadi tamu langganan tahunan di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat.
Di balik tingginya curah hujan yang kerap dijadikan “kambing hitam”, ada satu isu krusial yang menyangkut gaya hidup dan pengelolaan lingkungan kita: masifnya pergantian alih lahan dari hutan alami menjadi perkebunan kelapa sawit.
Meski komoditas ini menggerakkan roda ekonomi, dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem tidak bisa dipandang sebelah mata.
Lantas, mengapa ekspansi kebun sawit sering kali berujung pada bencana ekologis? Berikut adalah 5 alasan utamanya:
Baca Juga: Peneliti UI: Implementasi Mandatori B50 Harus Diiringi Penguatan Produksi Sawit Sektor Hulu
1. Hilangnya “Spons” Alami Penahan Air
Hutan hujan tropis di Kalbar berfungsi layaknya spons raksasa.
Akar pohon-pohon besar menahan dan menyerap air hujan, menyimpannya di dalam tanah, dan melepaskannya secara perlahan.
Ketika hutan dibabat habis (land clearing) dan diganti dengan tanaman monokultur seperti sawit, daya serap tanah menurun drastis.
Akar serabut kelapa sawit tidak memiliki kemampuan mengikat air hujan sebaik pohon hutan kayu, sehingga air langsung mengalir deras menjadi limpasan permukaan (surface runoff) yang memicu banjir.
2. Rusaknya Ekosistem Lahan Gambut
Kalimantan Barat memiliki kawasan lahan gambut yang sangat luas.
Gambut dalam kondisi alaminya selalu basah dan mampu menampung volume air yang luar biasa besar.
Namun, demi menanam sawit, lahan gambut harus dikeringkan terlebih dahulu.
Pengeringan ini merusak struktur gambut, membuatnya kehilangan kemampuan menyerap air hujan secara maksimal.
Saat musim hujan tiba, air tidak lagi tertampung dan langsung menggenangi kawasan sekitarnya.
3. Pendangkalan Sungai Akibat Erosi
Proses alih lahan biasanya melibatkan pembukaan tanah skala besar yang membiarkan permukaan tanah telanjang tanpa tutupan vegetasi pelindung. Saat hujan lebat turun, lapisan tanah atas yang gembur sangat mudah tergerus air.
Tanah berlumpur ini kemudian terbawa arus dan mengendap di dasar sungai.
Proses sedimentasi ini menyebabkan pendangkalan sungai.
Akibatnya, kapasitas sungai untuk menampung debit air hujan berkurang, sehingga air meluap ke permukiman warga.
4. Sistem Kanalisasi yang Mengubah Arus Air
Untuk menjaga agar tanaman sawit tidak membusuk karena tergenang, perusahaan perkebunan biasanya membangun jaringan kanal atau parit drainase buatan.
Kanal-kanal ini dirancang untuk membuang kelebihan air dari perkebunan secepat mungkin menuju sungai terdekat.
Celakanya, ketika curah hujan tinggi, sistem ini mempercepat volume air bah yang masuk ke sungai dalam waktu bersamaan, membuat sungai kewalahan menahan debit air dan akhirnya memicu banjir bandang di daerah hilir.
5. Perubahan Iklim Mikro dan Pola Curah Hujan
Pergantian area hutan luas menjadi perkebunan monokultur mengubah iklim mikro di kawasan tersebut.
Berkurangnya penguapan air dari kanopi hutan (evapotranspirasi) membuat suhu lokal meningkat.
Deforestation yang masif pada akhirnya ikut berkontribusi pada perubahan iklim global yang membuat pola cuaca menjadi semakin ekstrem.
Hujan yang turun bisa jadi lebih singkat namun dengan intensitas yang sangat lebat dan di luar prediksi, memperparah risiko banjir.
Banjir bukanlah semata-mata kutukan alam, melainkan alarm bahwa ada yang salah dengan cara kita memperlakukan bumi.
Menyadari dampak dari alih lahan ini merupakan langkah awal gaya hidup peduli lingkungan.
Pembangunan ekonomi sangat penting, namun menjaga kelestarian alam Kalimantan Barat demi keselamatan generasi mendatang jauh lebih berharga.
Baca Juga: Harga TBS Sawit Kalbar Periode IV Maret Naik Tembus Rp3.765 per Kg
(Mira)
















