ASN Perlu Kuasai Teknik dan Etika MC

Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah memberikan sambutan saat membuka Pelatihan Teknik dan Etika Master of Ceremony (MC) bagi ASN di Aula Sultan Syarif Abdurrahman. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah memberikan sambutan saat membuka Pelatihan Teknik dan Etika Master of Ceremony (MC) bagi ASN di Aula Sultan Syarif Abdurrahman. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pontianak, Amirullah, menegaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) perlu menguasai teknik dan etika master of ceremony (MC) guna mendukung profesionalisme acara pemerintahan.

Baca Juga: Hadiri Silaturahim di Pontianak, Muhadjir Effendy Ajak Kader Muhammadiyah Kalbar Perkuat Kepedulian Global

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Pelatihan Teknik dan Etika MC dalam Acara Formal dan Nonformal bagi ASN di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak di Aula Sultan Syarif Abdurrahman (SSA), Selasa (7/4/2026).

Amirullah menyebutkan bahwa seorang pembawa acara memegang kendali penuh terhadap alur kegiatan, sehingga kualitas sebuah acara sering kali sangat ditentukan oleh kemampuan MC-nya.

“Pelatihan ini merupakan upaya pemerintah kota dalam meningkatkan kapasitas ASN, khususnya di bidang keprotokolan. Peran MC itu penting, karena dia yang memandu dan mengatur lalu lintas acara. Kadang sebuah acara bisa terasa hambar atau kurang menarik karena MC-nya tidak tepat,” ujarnya.

Menurutnya, menjadi MC bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan tanpa persiapan.

Terdapat teknik dasar, etika, dan pengetahuan yang wajib dipelajari agar seseorang mampu tampil maksimal, terutama dalam acara-acara resmi pemerintahan yang memerlukan ketelitian tinggi.

“Menjadi MC itu tidak bisa ujug-ujug langsung bisa. Harus dipelajari. Ada ilmu dasarnya, ada tekniknya, dan itu yang hari ini diberikan kepada peserta,” katanya.

Baca Juga: Targetkan Juara Umum, KONI Kota Pontianak Mantapkan Persiapan Porprov 2026

Amirullah juga mengingatkan pentingnya rasa percaya diri bagi seorang MC.

Namun, kepercayaan diri tersebut harus didukung dengan persiapan yang matang, termasuk memahami susunan acara, mengenali tamu yang hadir, serta mengetahui aturan keprotokolan agar tidak terjadi kesalahan penyebutan identitas.

“Kalau acara formal, salah menyebut nama atau gelar bisa fatal. Karena itu sebelum tampil, MC harus tahu siapa yang hadir, siapa yang mewakili, dan bagaimana susunan acaranya. Harus kepo dulu istilahnya, supaya tidak salah,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai seorang pembawa acara juga dituntut untuk peka membaca situasi dan menguasai suasana.

Baik dalam acara formal maupun nonformal, MC harus tahu kapan saat yang tepat untuk berbicara, kapan harus berhenti, serta bagaimana menjaga ritme kegiatan dari pembukaan hingga penutupan.