Faktakalbar.id, NASIONAL – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan serangkaian peristiwa bencana banjir dan longsor yang mendominasi sejumlah wilayah di Tanah Air selama masa peralihan musim hujan ke kemarau pada periode Senin (6/4/2026) hingga Selasa (7/4/2026).
Tingginya intensitas curah hujan tercatat menjadi faktor utama pemicu rentetan bencana hidrometeorologi tersebut.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Landa Tasikmalaya, BNPB Peringatkan Bahaya Bencana di Masa Pancaroba
Berdasarkan data Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, banjir bandang menerjang Desa Menggala dan Pemenang Barat di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (5/4/2026) sekitar pukul 05.00 WITA.
Insiden ini mengakibatkan 212 jiwa terdampak, tiga unit rumah hanyut, dan 63 rumah terendam. Air bah turut merusak tanggul sungai sepanjang 100 meter serta 1,6 hektare lahan pertanian.
Memasuki Senin (6/4/2026), genangan dilaporkan telah surut meski material lumpur masih memenuhi rumah warga.
Peristiwa bencana banjir dan longsor dalam skala masif juga terjadi di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, menyusul hujan intensitas tinggi pada Minggu (5/4/2026).
Bencana ini berdampak pada sepuluh desa di tujuh kecamatan. BPBD Kabupaten Seluma mendata 851 Kepala Keluarga (KK) atau 2.637 jiwa terdampak.
Kerusakan materiel meliputi 426 rumah, 10 fasilitas pendidikan, empat fasilitas ibadah, dua fasilitas kesehatan, dan enam akses jalan utama. Pada Senin (6/4/2026) pagi, banjir meluas ke tiga desa lainnya, menyebabkan 35 jiwa terdampak serta memutus satu akses jalan akibat tertutup material longsor.
Di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, hujan deras berdurasi dua jam pada Minggu (5/4/2026) memicu banjir setinggi 10 hingga 50 sentimeter di tiga desa wilayah Kecamatan Way Khilau.
Sebanyak 291 rumah terendam dan satu orang dilaporkan hilang. Hingga Senin (6/4/2026) saat air mulai surut, tim SAR gabungan masih terus menggelar operasi pencarian korban.
Sementara itu, wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, diwarnai oleh insiden pergeseran tanah yang merusak sembilan desa di tujuh kecamatan pada Sabtu (4/4/2026).
Pergerakan tanah ini merusak puluhan bangunan dengan rincian tiga rumah rusak berat, lima rusak sedang, dan empat rusak ringan. Sedikitnya 15 jiwa terpaksa mengungsi.
Kondisi mutakhir pada Senin (6/4/2026) menunjukkan jalan di Desa Hambaro belum dapat dilalui kendaraan roda empat akibat pergeseran tanah, sedangkan area tebing longsor di Desa Cigombong telah ditutup terpal guna meminimalkan potensi longsor susulan.
















