Lebih Menyesakkan, Ini Alasan Psikologis Kenapa Seseorang Tidak Bisa Menangis Saat Berduka

"Mengapa ada orang yang tidak bisa menangis saat orang tersayang meninggal? Simak penjelasan psikologis mengenai mati rasa emosional dan duka yang tertunda."
Mengapa ada orang yang tidak bisa menangis saat orang tersayang meninggal? Simak penjelasan psikologis mengenai mati rasa emosional dan duka yang tertunda. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kehilangan orang yang sangat disayangi adalah salah satu ujian terberat dalam hidup. Menariknya, setiap orang memiliki cara bereaksi yang berbeda terhadap duka.

Kita sering melihat ada orang yang menangis tersedu-sedu hingga histeris, namun ada pula yang tampak diam, tenang, bahkan tidak mengeluarkan setetes air mata pun.

Banyak orang salah kaprah dan menganggap mereka yang tidak menangis sebagai sosok yang dingin atau tidak peduli.

Padahal, dalam dunia psikologi, kondisi “tidak bisa menangis” saat berduka sering kali menyimpan kepedihan yang jauh lebih mendalam dan kompleks.

Berikut adalah alasan mengapa kondisi tersebut justru terasa lebih menyesakkan:

Baca Juga: Gariskoyak: Inovasi Game Edukatif untuk Selamatkan Tari Koncong Dayak Salako dari Kepunahan

1. Fase Shock dan Numbness yang Hebat

Saat seseorang menerima berita duka yang sangat mendadak atau teramat berat, otak terkadang mengaktifkan mekanisme pertahanan berupa emotional numbness atau mati rasa.

Ini adalah cara tubuh melindungi mental dari ledakan emosi yang terlalu besar agar tidak mengalami breakdown.

Orang tersebut tidak menangis bukan karena tidak sedih, melainkan karena jiwanya masih dalam keadaan shock dan belum mampu memproses kenyataan yang ada.

2. Beban Delayed Grief (Duka yang Tertunda)

Mereka yang menangis tersedu-sedu biasanya sedang melakukan pelepasan emosi secara langsung (catharsis).

Sebaliknya, mereka yang tidak bisa menangis sering kali mengalami delayed grief. Kesedihan itu tidak hilang, melainkan mengendap di dalam bawah sadar.

Karena tidak segera dikeluarkan, beban emosional ini bisa menumpuk dan berisiko meledak di kemudian hari dalam bentuk gangguan kecemasan atau depresi yang lebih berat.

3. Terjebak dalam Mode Bertahan Hidup

Sering kali, orang yang paling dekat dengan almarhum justru tidak menangis karena ia merasa harus memikul tanggung jawab.

Ia merasa harus kuat untuk mengurus pemakaman, menjaga anggota keluarga lain, atau melayani pelayat.

Otaknya dipaksa berada dalam mode rasional dan fungsional, sehingga emosinya terkunci rapat.

Rasa sedih yang “tertahan” demi kepentingan orang lain ini jauh lebih menyakitkan daripada melepasnya lewat tangisan.