Habis Penasaran Terbitlah Ilfeel? Ini Alasan Psikologis Kenapa Kamu Ilfil Saat Doi Balik Menyukai

"Mengapa kita sering ilfeel saat rasa penasaran habis? Simak penjelasan psikologi mengenai dopamin, gaya kelekatan avoidant, hingga rasa takut akan komitmen."
Mengapa kita sering ilfeel saat rasa penasaran habis? Simak penjelasan psikologi mengenai dopamin, gaya kelekatan avoidant, hingga rasa takut akan komitmen. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda merasa sangat bersemangat mengejar seseorang, memberikan perhatian penuh, hingga melakukan segala cara agar dia menoleh? Namun, anehnya, tepat saat orang tersebut mulai menunjukkan ketertarikan balik atau menyatakan perasaannya, Anda justru merasa dingin, kehilangan minat, bahkan merasa ilfeel (ilfil) seketika.

Fenomena “habis penasaran, habis rasa” ini sering kali membuat pelakunya merasa bersalah atau bingung dengan diri sendiri.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini bukanlah hal yang aneh dan biasanya berkaitan erat dengan mekanisme pertahanan diri serta cara seseorang memandang sebuah tantangan.

Berikut adalah alasan psikologis mengapa rasa ilfeel muncul saat pengejaran Anda membuahkan hasil:

Baca Juga: 4 Tips Cerdas Mengatasi Rasa Ilfeel pada Orang yang Sok Akrab

1. Adiksi Terhadap Hormon Dopamin (The Chase High)

Saat Anda mengejar seseorang yang sulit didapatkan, otak melepaskan hormon dopamin dalam jumlah besar.

Ini adalah hormon yang memicu rasa senang, gairah, dan adrenalin akibat tantangan.

Namun, begitu target tercapai dan “perburuan” selesai, kadar dopamin menurun drastis.

Bagi sebagian orang, mereka sebenarnya bukan jatuh cinta pada orangnya, melainkan jatuh cinta pada sensasi “mengejar”-nya saja.

2. Gaya Kelekatan Menghindar (Avoidant Attachment Style)

Secara psikologis, banyak orang memiliki gaya kelekatan avoidant.

Mereka merasa nyaman mencintai seseorang dari jauh karena merasa aman.

Namun, ketika orang tersebut mendekat dan menginginkan komitmen atau kedekatan emosional yang nyata, mereka merasa terancam dan ruang pribadinya terinvasi.

Rasa ilfeel adalah mekanisme pertahanan otomatis untuk menjauhkan diri dari keintiman yang menakutkan bagi mereka.

3. Ekspektasi vs Realita yang Runtuh

Saat mengejar, kita cenderung melakukan idealisasi atau membangun citra sempurna tentang orang tersebut di kepala kita.

Begitu orang itu membalas perasaan kita, sosok “dewa” atau “dewi” yang kita puja mendadak terlihat sebagai manusia biasa dengan segala kekurangannya.

Runtuhnya fantasi yang kita bangun sendiri inilah yang memicu rasa kecewa dan berujung pada hilangnya ketertarikan.