Badai Masalah Tetap Kalem? Ini Penjelasan Psikologis Kenapa Beberapa Orang Justru Santai Saat Diterpa Ujian

"Kenapa ada orang yang tetap santai meski banyak masalah? Simak penjelasan psikologis mengenai resiliensi, coping humor, hingga kemampuan menerima kenyataan."
Kenapa ada orang yang tetap santai meski banyak masalah? Simak penjelasan psikologis mengenai resiliensi, coping humor, hingga kemampuan menerima kenyataan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda melihat seseorang yang sedang ditimpa musibah bertubi-tubi, namun raut wajahnya tetap tenang, bahkan masih bisa bercanda seolah tidak terjadi apa-apa? Fenomena ini sering kali membuat orang di sekitarnya heran atau bahkan menganggap sosok tersebut tidak peka.

Padahal, dalam kacamata psikologi, sikap santai di tengah badai masalah bukanlah tanda ketidakpedulian.

Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk pertahanan mental yang sangat tingkat tinggi.

Berikut adalah alasan psikologis mengapa beberapa orang justru terlihat “asik” saat masalah datang bertubi-tubi:

1. Tingkat Resilience yang Sudah Teruji

Baca Juga: Ingin Hidup Lebih Tenang? Ini Rekomendasi Kabupaten untuk Slow Living di Kalimantan Barat

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari keterpurukan.

Orang yang terlihat santai biasanya sudah pernah melewati berbagai “badai” di masa lalu.

Pengalaman hidup yang keras membentuk mental mereka menjadi lebih tangguh.

Bagi mereka, masalah baru hanyalah rintangan lain yang pasti ada jalan keluarnya, sehingga mereka tidak lagi kaget atau panik berlebihan.

2. Mekanisme Coping Humor

Menggunakan humor sebagai cara menghadapi masalah adalah salah satu mekanime pertahanan diri yang paling sehat secara psikologis.

Dengan membawa masalah ke arah yang lucu atau “diasikin” saja, seseorang sebenarnya sedang berusaha menurunkan kadar hormon stres di otaknya.

Humor membantu mereka menjaga kewarasan agar tetap bisa berpikir logis tanpa harus tenggelam dalam kesedihan yang melumpuhkan.

3. Kemampuan Emotional Detachment

Beberapa individu memiliki kemampuan untuk memisahkan diri secara emosional dari masalahnya (emotional detachment).

Mereka melihat masalah sebagai objek luar yang harus diselesaikan, bukan sebagai bagian dari identitas diri mereka.

Dengan menjaga jarak emosional, mereka bisa tetap tenang dan tidak membiarkan perasaan negatif menguasai seluruh aspek kehidupan mereka.