Opini  

Kali Ini Keracunan MBG di Jantung Ibukota Negara, 72 Siswa Tumbang

Siswa mendapatkan perawatan medis di rumah sakit usai mengalami keracunan makanan dari program MBG di kawasan Jakarta Timur, Kamis (2/4/2026).
Siswa mendapatkan perawatan medis di rumah sakit usai mengalami keracunan makanan dari program MBG di kawasan Jakarta Timur. (Dok. Ist)

Kalimat yang terdengar menenangkan… tapi bagi orang tua, luka ini tidak selesai dalam satu dua hari. Karena setelah infus dilepas, setelah anak pulang, yang tersisa adalah ketakutan. Takut makan. Takut percaya. Takut kejadian itu terulang.

Sementara itu, dari pihak BGN, Wakil Kepala Bidang Komunikasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan permohonan maaf. Katanya tulus. Operasional dapur SPPG Pondok Kelapa dihentikan sementara.

Alasannya? Fasilitas belum memenuhi standar. Tata letak bermasalah. IPAL belum sesuai. Satu lagi yang terdengar sederhana tapi mematikan, jeda distribusi terlalu lama, membuat makanan tidak lagi segar. Wak… ini bukan masalah kecil. Ini bukan sekadar “oops”. Ini kelalaian yang berulang.

Biaya pengobatan memang ditanggung, melalui BPJS atau BGN. Terdengar seperti solusi cepat. Tapi ini seperti mengganti perban tanpa menghentikan luka yang terus disayat.

Di rumah-rumah malam itu, suasana berubah. Orang tua memeluk anak mereka lebih erat. Tidak ada lagi rasa percaya yang utuh. Dalam bisikan pelan, penuh air mata, mereka berkata, “Jangan makan itu lagi, Nak… kita bawa bekal saja dari rumah.”

Kepercayaan sudah runtuh. Berkeping-keping. Di tengah semua ini, satu pertanyaan menggantung, keras, tak nyaman, tapi jujur, kalau makanan ini aman, kenapa sudah puluhan ribu anak jadi korban?

Satu lagi yang lebih tajam, apakah para petinggi itu mau makan yang sama? Bukan untuk kamera. Bukan satu suapan simbolik. Tapi setiap hari. Dari dapur yang sama. Dengan distribusi yang sama. Dengan risiko yang sama. Kalau mereka ragu, kalau mereka diam, maka jawabannya sebenarnya sudah jelas.

Ini bukan lagi soal program. Ini soal nyawa. Selama kita terus menganggap ini “kecil”, selama itu pula tragedi akan terus datang, dengan angka baru, korban baru, dan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.

Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.