Opini  

Kali Ini Keracunan MBG di Jantung Ibukota Negara, 72 Siswa Tumbang

Siswa mendapatkan perawatan medis di rumah sakit usai mengalami keracunan makanan dari program MBG di kawasan Jakarta Timur, Kamis (2/4/2026).
Siswa mendapatkan perawatan medis di rumah sakit usai mengalami keracunan makanan dari program MBG di kawasan Jakarta Timur. (Dok. Ist)

OPINI – “Ah, cuma 0,00017%,” kata petinggi. Kecil, nyaris tak terlihat. Statistik dingin yang disajikan seperti gula di atas luka. Tapi, coba tanya ke orang tua yang lihat anaknya muntah tanpa henti, tubuh lemas tak berdaya di ranjang rumah sakit, apakah itu terasa seperti angka kecil? Atau seperti dunia yang runtuh pelan-pelan di depan mata?

Kamis, 2 April 2026. Jakarta Timur. Empat sekolah di kawasan Pondok Kelapa dan Duren Sawit. Siang itu, anak-anak menyantap menu dari dapur SPPG Pondok Kelapa 2: spageti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran, dan stroberi.

Baca Juga: Narasi MBG Banyak Negatif, Apakah Ulah Lawan Politik atau Murni Kemarahan Netizen?

Menu yang terlihat “bergizi”. Bahkan mungkin lebih “mewah” dari bekal rumah sebagian dari mereka. Tapi beberapa menit kemudian, semuanya berubah jadi adegan yang tak akan pernah bisa dihapus dari ingatan.

Satu anak muntah. Lalu dua. Lalu seperti domino yang jatuh satu per satu, kelas berubah jadi lautan kepanikan.

Muntah tak terkendali, cairan asam keluar terus-menerus. Bau menyengat memenuhi ruangan. Anak-anak memegangi perut mereka, wajah pucat seperti kehilangan darah. Ada yang mencoba berdiri, lalu jatuh. Ada yang menangis sambil merintih, “Bu… sakit… Bu…”

Diare menyusul. Demam naik cepat. Perut mereka seperti diremas dari dalam, seperti ada pisau tak terlihat yang mengiris pelan tapi pasti. Tubuh kecil itu gemetar, keringat dingin membasahi seragam.

Sebagian anak sudah tak kuat menangis. Mereka hanya diam, menatap kosong, seolah tubuhnya menyerah lebih dulu daripada suaranya.

Baca Juga: MBG Dinilai Mencederai Masyarakat Miskin, Kritik Terus Bergulir

Ambulans datang dengan sirene meraung. Satu, dua, tiga, tak cukup. Orang tua berdatangan dalam kepanikan yang tak bisa dijelaskan. Ada yang berlari tanpa alas kaki. Ada yang langsung memeluk anaknya sambil menangis histeris. Ada yang hanya terdiam, syok, melihat anaknya terbaring dengan infus di tangan kecilnya.

Total 72 siswa tumbang. Sebagian dirawat di tiga rumah sakit. Sebagian boleh pulang setelah observasi. Tapi trauma? Tidak ada yang “dipulangkan”.

Ini bukan kejadian pertama. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, kasus keracunan MBG sudah mencapai puluhan ribu. Dari Januari 2026 saja, hampir dua ribu anak terdampak dalam waktu singkat. Total sebelumnya sudah melampaui belasan ribu kasus. Ini bukan anomali. Ini pola yang terus berulang.

Namun setiap kali terjadi, kita selalu bersikap seperti ini hal baru.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, datang menjenguk ke RSKD Duren Sawit. Dengan nada tenang, ia menyampaikan, “Kondisinya sekarang semuanya stabil, recovery, mudah-mudahan satu dua hari sudah selesai semua.” Bahkan diselipkan kata syukur, Alhamdulillah.