Melawan Arus Cepat, Ini Konsep Slow Living ala Jurnalis Gen Z Agar Tetap Waras

"Jurnalis Gen Z kini mulai menerapkan slow living untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan berita. Simak 5 cara melambat namun tetap produktif."
Jurnalis Gen Z kini mulai menerapkan slow living untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan berita. Simak 5 cara melambat namun tetap produktif. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Menjadi jurnalis di era digital, khususnya bagi Gen Z, sering kali identik dengan kecepatan, tekanan deadline, dan kewajiban untuk selalu update dengan tren di media sosial.

Di tengah kebisingan informasi yang tak henti-hentinya menghujam layar ponsel, muncul sebuah gerakan perlawanan lembut yang disebut slow living.

Bagi seorang jurnalis muda, slow living bukan berarti berhenti bekerja atau menjadi malas.

Sebaliknya, ini adalah sebuah strategi untuk tetap waras dan produktif tanpa harus mengorbankan kesehatan mental. Berikut adalah konsep slow living ala jurnalis Gen Z:

Baca Juga: Dua Jurnalis Lebanon Tewas Akibat Serangan Rudal Israel di Wilayah Selatan

1. Memilih Kedalaman daripada Kecepatan

Alih-alih berlomba menjadi yang pertama namun dangkal, jurnalis slow living lebih memilih untuk melakukan riset yang mendalam.

Mereka menerapkan prinsip slow journalism, di mana kualitas narasi dan keakuratan fakta lebih diutamakan.

Menulis satu artikel yang sangat berdampak terasa lebih memuaskan daripada memproduksi sepuluh berita clickbait yang cepat dilupakan.

2. Ritual Pagi Tanpa Notifikasi

Sebelum terjun ke dalam hiruk-pikuk berita dunia, jurnalis Gen Z yang menerapkan gaya hidup melambat biasanya memiliki “jam suci” di pagi hari.

Mereka sengaja tidak menyentuh ponsel selama satu jam pertama setelah bangun tidur.

Menikmati secangkir kopi hitam sambil melihat suasana kota dari jendela atau menulis jurnal syukur menjadi cara untuk membangun benteng mental sebelum menghadapi breaking news.

3. Mindfulness dalam Observasi Lapangan

Saat melakukan liputan, konsep mindfulness sangat diterapkan. Alih-alih hanya sibuk merekam dengan ponsel, jurnalis ini akan benar-benar hadir secara utuh di lokasi.

Mereka merasakan suasana, mendengarkan nada bicara narasumber, dan memperhatikan detail kecil yang sering terlewatkan. Hasilnya? Tulisan yang dihasilkan jauh lebih “bernyawa” dan manusiawi.