OPINI – Pagi pertama di pekan Syawal selalu membawa rasa yang berbeda. Tidak lagi riuh takbir yang menggema sepanjang malam, tidak lagi hiruk pikuk persiapan Idulfitri, tetapi justru hadir dalam bentuk keheningan yang jernih. Di pelataran plaza masjid, saya duduk dengan secangkir kopi liberika tanpa gula—pekat, pahit, dan jujur. Menunggu syuruq, ketika matahari pelan-pelan menguak langit, saya merasa sedang berada di antara dua dunia: Ramadhan yang telah pergi, dan kehidupan yang kembali berjalan.
Di titik hening itulah, Surah An-Naml terasa hidup.
Kita sering membaca Al-Qur’an sebagai teks. Padahal, ia adalah cermin peradaban. Dalam Surah An-Naml, Allah tidak hanya bercerita, tetapi memperlihatkan bagaimana ilmu, kekuasaan, dan hati saling berkelindan. Nabi Sulaiman bukan hanya raja, tetapi simbol dari peradaban berbasis ilmu dan tauhid. Ia memahami bahasa semut, mengelola kerajaan lintas makhluk, dan tetap berkata dengan rendah hati, “Ini karunia Tuhanku untuk mengujiku.”
Baca Juga: Jaga Etika Silaturahmi! Inilah 4 Larangan Saat Lebaran yang Wajib Diperhatikan
Di sinilah Syawal menemukan maknanya.
Ramadhan melatih kita menahan lapar dan dahaga. Tetapi Syawal menguji apakah kita mampu menahan ego, kesombongan, dan lupa diri. Persis seperti peringatan dalam An-Naml: banyak manusia yang menolak kebenaran bukan karena tidak tahu, tetapi karena enggan tunduk. Dalam dunia hari ini, di tengah banjir informasi dan teknologi, penyakit ini justru semakin halus—bersembunyi di balik kecerdasan, prestasi, dan jabatan.
Secangkir kopi liberika tanpa gula itu mengajarkan satu hal sederhana: realitas tidak selalu manis, tetapi harus dinikmati dengan kesadaran penuh. Begitu pula hidup setelah Ramadhan. Kita tidak lagi berada dalam atmosfer spiritual yang “dipaksa” oleh waktu. Tidak ada lagi sahur berjamaah, tarawih yang mengalir, atau tadarus yang terjadwal. Yang tersisa adalah: apakah nilai-nilai itu tetap hidup, atau perlahan memudar?
Surah An-Naml menjawabnya dengan tegas melalui kisah Ratu Balqis. Ia adalah pemimpin besar, rasional, dan tidak gegabah. Ketika menerima surat Nabi Sulaiman, ia tidak langsung bereaksi dengan emosi. Ia bermusyawarah, menimbang, dan akhirnya memilih tunduk pada kebenaran. Ini adalah pelajaran penting: bahwa kebenaran membutuhkan kejernihan hati, bukan sekadar kecepatan berpikir.
Syawal, dalam konteks ini, adalah fase klarifikasi diri. Apakah kita seperti Balqis—yang berani berubah ketika melihat kebenaran? Atau seperti kaum yang disebut dalam surah itu, yang menolak karena kesombongan yang mengakar?
Di plaza masjid, orang-orang mulai berdatangan. Ada yang berolahraga ringan, ada yang sekadar duduk, ada yang membuka mushaf kecil. Kehidupan kembali normal. Namun justru di sinilah tantangannya. Normalitas sering kali membuat kita lupa. Kita kembali pada rutinitas, pada target duniawi, pada ambisi yang kadang mengikis nilai-nilai yang baru saja kita bangun selama Ramadhan.
Padahal, Surah An-Naml mengingatkan bahwa kekuasaan, ilmu, dan harta hanyalah ujian. Nabi Sulaiman tidak pernah terjebak pada apa yang ia miliki. Ia selalu mengembalikannya kepada Allah. Dalam konteks kita hari ini: jabatan bukan identitas, kekayaan bukan kemuliaan, dan kecerdasan bukan jaminan keselamatan.
Justru yang menentukan adalah bagaimana kita merespons semua itu.
















