Lebih dari Sekadar Ego, Ini Alasan Kita Marah Saat Karya Dicomot Media Lain

"Simak alasan psikologis dan profesional mengapa mencuri karya foto atau berita memicu kemarahan besar. Hargai hak kepemilikan dan etika jurnalistik di era digital."
Simak alasan psikologis dan profesional mengapa mencuri karya foto atau berita memicu kemarahan besar. Hargai hak kepemilikan dan etika jurnalistik di era digital. (Dok. Mira/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Di era digital yang serba cepat, aksi saling berbagi informasi telah menjadi hal biasa. Namun, ada satu garis merah yang sering dilanggar: pengambilan karya berupa berita atau foto tanpa izin.

Bagi seorang kreator atau jurnalis, melihat hasil keringatnya dicomot begitu saja oleh media lain bukan sekadar masalah teknis, melainkan luka mendalam pada harga diri profesional.

Rasa marah yang muncul saat karya kita diklaim orang lain memiliki penjelasan yang kuat.

Ini bukan sekadar soal ego, melainkan tentang hak kepemilikan dan penghargaan atas proses yang tidak instan.

Baca Juga: Kecepatan Bukan Segalanya, Ini 5 Dampak Buruk Jurnalis Kurang Riset Saat di Lapangan

Berikut adalah alasan mengapa kita merasa amat marah saat berita dan foto kita dicomot tanpa izin:

1. Pelanggaran Terhadap Investasi Waktu dan Tenaga

Satu paragraf berita atau selembar foto tidak jatuh begitu saja dari langit.

Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang diperas, hingga biaya transportasi yang dikeluarkan untuk mencapai lokasi.

Ketika media lain mengambilnya dalam hitungan detik dengan cara copy-paste, mereka sebenarnya sedang mencuri investasi hidup Anda. Rasa marah adalah respons alami saat usaha keras Anda dianggap “gratisan” oleh pihak lain.

2. Hilangnya Identitas dan Kebanggaan Karya

Karya adalah representasi dari karakter penciptanya.

Saat foto atau berita Anda muncul di media lain tanpa atribusi atau nama yang jelas, identitas Anda sebagai pencipta seolah dihapuskan.

Dalam dunia kreatif, ini disebut sebagai pengabaian terhadap moral rights.

Hilangnya pengakuan ini memicu perasaan tidak dihargai, seolah-olah keberadaan Anda sebagai pemilik karya dianggap tidak penting.

3. Ketidakadilan Secara Ekonomi

Media yang mencomot karya orang lain sering kali bertujuan untuk mendulang trafik atau klik demi keuntungan iklan.

Sementara Anda yang bersusah payah di lapangan tidak mendapatkan kompensasi apa pun, pihak pengambil justru memanen keuntungan dari hasil kerja Anda.

Ketidakadilan ekonomi ini merupakan pemicu kemarahan yang sangat logis di dunia profesional.