OPINI – Dulu saya pernah menulis sebuah logika terbalik yang membuat sebagian orang naik tekanan darahnya. Judulnya cukup provokatif, “Ijazah Jokowi dan Proyek 2029, Operasi Rahasia Menjaga Nama Tetap Hidup.” Intinya sederhana tapi nakal. Jangan-jangan para pemburu ijazah itu justru ikut menjaga panggung yang sama. Jangan-jangan mereka bukan sekadar penyerang, melainkan bagian dari mekanisme yang membuat nama Joko Widodo tetap hidup dalam percakapan publik. Nikmati narasinya sambil imagine Koptagul, wak!
Baca Juga: Rismon Berbalik Arah, Nyatakan Ijazah Jokowi Asli
Tulisan itu memancing banyak reaksi. Ada tertawa. Ada mencibir. Ada pula langsung memberi stempel yang sangat populer di republik ini, termul. Seolah menulis dengan logika terbalik adalah dosa intelektual yang harus ditebus dengan label ideologis. Saya sendiri santai saja. Dalam politik, sering kali teori terdengar paling aneh hari ini justru menjadi kenyataan yang biasa saja beberapa waktu kemudian.
Lalu panggung politik memberi kita satu adegan menarik. Salah satu tokoh paling keras di barisan penggugat, Rismon Sianipar, tiba-tiba mengambil langkah tak banyak diduga orang. Ia datang ke Solo, menemui Jokowi, meminta maaf, dan menyatakan ijazah Jokowi asli. Bahkan ia mengajukan penyelesaian melalui mekanisme restorative justice. Ini seolah ingin menutup drama panjang itu dengan jalan damai.
Di titik itulah saya kembali teringat pada tulisan lama tersebut. Logika terbalik yang dulu dianggap ngawur tiba-tiba terasa seperti menemukan serpihan kebenaran kecil. Bukan berarti seluruh dugaan itu pasti benar. Politik terlalu rumit untuk dijelaskan dengan satu teori. Tetapi peristiwa itu menunjukkan satu hal penting, panggung yang selama ini terlihat seperti pertarungan keras ternyata bisa berubah arah secara tiba-tiba.
Dalam tulisan lama itu saya pernah menyebut tiga nama dengan istilah bercanda, RRT atau “Tiroris” Rismon Sianipar, Roy Suryo, dan Tifauziah Tyassuma. Mereka adalah figur yang selama ini membuat isu ijazah itu terus berputar di ruang publik. Setiap kali salah satu dari mereka berbicara, nama Jokowi kembali muncul di berita, di media sosial, dan di obrolan warung kopi.
Sekarang salah satu dari tiga nama itu sudah berbalik arah. Itu membuat pertanyaan lama muncul kembali, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Apakah dua nama yang tersisa akan tetap berada di posisi yang sama, atau suatu hari nanti panggung politik akan kembali menghadirkan adegan yang serupa?
Tidak ada yang tahu jawabannya. Namun situasi seperti ini membuat saya teringat pada satu kalimat tajam dari Said Didu. “Sisakan sedikit saja untuk tidak percaya kepada politisi.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dalam iklim politik penuh drama, ia terasa seperti pengingat penting agar publik tidak terlalu cepat memuja ataupun terlalu cepat menghakimi.
















