Orang Tua Wajib Tahu! 5 Kesalahan Parenting yang Memicu Anxious Attachment pada Anak

"Kenali 5 kesalahan parenting yang tanpa disadari membuat anak memiliki anxious attachment. Pahami pola asuh yang sehat demi kesehatan mental buah hati."
Kenali 5 kesalahan parenting yang tanpa disadari membuat anak memiliki anxious attachment. Pahami pola asuh yang sehat demi kesehatan mental buah hati. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi masa depan buah hatinya.

Namun, tanpa disadari, pola asuh yang diterapkan sehari-hari dapat membentuk gaya kelekatan (attachment style) tertentu pada anak hingga mereka dewasa.

Salah satu yang paling sering dibahas dalam psikologi adalah anxious attachment.

Anak dengan gaya kelekatan cemas cenderung merasa tidak aman, takut ditinggalkan, dan sangat bergantung pada validasi orang lain.

Kondisi ini biasanya berakar dari pengalaman emosional di masa kecil yang tidak konsisten.

Baca Juga: Dewasa yang ‘Baterainya’ Awet: Benarkah Karena Tumbuh di ‘Keluarga Cemara’? Ini Kata Psikologi

Memahami kesalahan-kesalahan kecil dalam pengasuhan dapat membantu orang tua mencegah terbentuknya luka emosional ini.

Berikut adalah 5 kesalahan parenting yang berisiko membuat anak memiliki anxious attachment:

1. Respon Emosional yang Tidak Konsisten

Kesalahan utama yang memicu kecemasan adalah ketidakkonsistenan.

Terkadang orang tua sangat hangat dan penuh kasih, namun di waktu lain bersikap dingin atau mengabaikan anak tanpa alasan yang jelas.

Ketidakpastian ini membuat anak belajar bahwa mereka tidak bisa mengandalkan ketersediaan emosional orang tua, sehingga mereka selalu merasa was-was.

2. Sering Menggunakan Ancaman “Ditinggalkan”

Mengancam akan meninggalkan anak saat mereka sedang menangis atau tidak patuh (misalnya, “Kalau tidak diam, Ibu tinggal ya!”) adalah hal yang sangat merusak.

Bagi orang tua mungkin itu hanya gertakan, namun bagi anak, itu adalah ancaman nyata terhadap keamanan mereka.

Hal ini menanamkan ketakutan mendalam bahwa kasih sayang bersifat bersyarat dan bisa hilang kapan saja.

3. Membebani Anak dengan Emosi Orang Tua (Parentification)

Anak-anak membutuhkan orang tua sebagai tempat berlindung, bukan sebaliknya.

Ketika orang tua terlalu sering curhat atau menjadikan anak sebagai tumpuan emosional atas masalah dewasa, anak akan merasa harus selalu “menjaga” perasaan orang tuanya.

Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang terlalu peka terhadap perubahan mood orang lain dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri.