OPINI – Kalau kalian nonton videonya, duh malunya negeri ini. “Macam budak kecik,” kata orang Pontianak. Teriak teriak ngatakan tolol, goblok. Wak, itu ruang publik, bukan pasar. Nikmati narasinya sambil imagine seruput koptagul, wak!
Suatu malam yang seharusnya penuh wibawa, studio iNews mendadak berubah jadi arena gladiator. Di satu sudut, berdiri Feri Amsari, akademisi hukum yang membawa kitab suci konstitusi sebagai pedang.
Di sudut lain, Permadi Arya alias Abu Janda, aktivis media sosial yang sudah menyiapkan jurus “tolol” sebagai senjata pamungkas. Di tengah, Aiman Witjaksono, moderator yang tiba tiba merasa dirinya bukan lagi jurnalis, melainkan wasit tinju yang tersesat di acara debat politik.
Baca Juga: Presiden Prabowo Bahas Pembangunan Kampus STEM Hingga Kesiapan Mudik di Hambalang
Tema yang dibahas sebenarnya serius. Posisi Indonesia terhadap konflik Palestina Israel. Feri Amsari dengan penuh semangat mengingatkan, sejak awal berdiri, Indonesia punya amanat konstitusi, menolak segala bentuk penjajahan.
Palestina adalah simbol perjuangan itu, dan mendukungnya bukan sekadar pilihan politik, melainkan kewajiban moral dan hukum. Kata kata Feri meluncur seperti ayat kitab suci, penuh keyakinan, penuh api.
Namun, Abu Janda tidak tinggal diam. Dengan gaya khasnya yang blak blakan, ia menuding argumen Feri hanya jargon kosong. “Tolol kalau berpikir begitu,” katanya, seolah sedang melempar sandal jepit ke wajah lawan debat.
Penonton di studio terdiam, lalu sebagian tertawa, sebagian lagi bingung apakah mereka sedang menonton talkshow atau audisi stand up comedy.
Feri Amsari, yang biasanya tampil akademis, kali ini meledak. Ia membalas dengan kata “goblok” yang meluncur seperti roket Fattah Iran, menghantam balik Abu Janda dengan energi yang membuat studio bergetar.
Kata kata itu bukan sekadar makian, tapi deklarasi perang intelektual. Seisi ruangan mendadak seperti pasar malam penuh teriakan, sementara Aiman berusaha menenangkan dengan suara lirih: “Tenang, tenang…” tapi jelas tidak ada yang tenang.
Suasana semakin absurd. Feri bicara soal amanat konstitusi, Abu Janda bicara soal realitas politik dunia, tapi yang terdengar hanya gema “tolol” dan “goblok” yang berulang ulang diputar netizen di media sosial.
Potongan video itu viral, bertebaran di TikTok, Instagram, dan Twitter, dengan caption kreatif “Debat akademisi vs aktivis, hasilnya tolol vs goblok, siapa menang?”
Aiman, sang moderator, mencoba meredam dengan gaya diplomatis. Ia tidak mengusir Abu Janda, tidak menghentikan Feri, hanya berusaha menjaga agar acara tidak berubah total jadi gladiator. Tapi jelas, malam itu, studio iNews sudah resmi jadi arena komedi politik.
Nuan bayangkan! sebuah acara yang seharusnya jadi forum serius malah berubah jadi opera absurd. Kalau Aristoteles hidup lagi, mungkin ia akan menulis bab baru dalam filsafat, Etika Tolol Goblok dalam Demokrasi Televisi.
Kalau Shakespeare menonton, ia mungkin akan menulis tragedi baru berjudul Romeo and Juliet Tolol vs Goblok Edition.
Publik pun terbelah. Ada yang menganggap Feri benar karena membela konstitusi, ada yang menganggap Abu Janda realistis karena bicara solusi praktis.
Baca Juga: Pakar Hukum Binus Anggap Kasus Tambang Emas Ketapang Cacat Hukum: Satu Perkara Dipidana Dua Kali
Tapi di luar substansi, yang paling diingat orang hanyalah duel kata kata kasar itu. Seolah olah seluruh sejarah diplomasi Indonesia diringkas dalam dua kata tolol dan goblok.
Begitulah, malam itu tercatat dalam sejarah televisi Indonesia sebagai Opera Tolol Goblok. Sebuah tragedi komedi nasional yang membuat penonton ngakak, geleng geleng, bahkan ada yang muntah karena terlalu banyak tertawa.
Debat serius berubah jadi tontonan epik, dramatis, absurd, dan tentu saja, sangat Indonesia.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
















