4. Kebiasaan Menunggu Orang Lain
Pernahkah kamu berniat datang tepat waktu, namun akhirnya menjadi orang pertama yang hadir di ruangan yang kosong? Pengalaman traumatis menjadi “penunggu tunggal” ini sering kali membuat seseorang kapok untuk datang tepat waktu.
Akibatnya, setiap individu sengaja datang terlambat karena berekspektasi bahwa orang lain juga akan melakukan hal yang sama.
5. Kurangnya Sanksi Tegas dalam Lingkungan Sosial
Di Jepang, seorang menteri merasa perlu meminta maaf kepada seluruh negeri hanya karena terlambat 5 menit karena merasa telah mengganggu manajemen krisis.
Di Indonesia, sanksi bagi mereka yang terlambat dalam urusan non-formal hampir tidak ada.
Tanpa adanya sistem reward and punishment yang jelas, keinginan untuk berubah menjadi lebih disiplin sering kali kalah oleh rasa malas atau keinginan untuk bersantai sejenak.
Mengubah budaya ngaret memang tidak mudah karena sudah mengakar secara kolektif.
Namun, menghargai waktu orang lain adalah cermin dari kualitas diri dan bentuk profesionalisme dalam berinteraksi.
Baca Juga: Indonesia Jadi Pasar Restoran Jepang Terbesar di ASEAN, Intip Tren Ramen Halal yang Mendunia
(Mira)
















