Suka Datang Terlambat? Ini 5 Alasan Kenapa Budaya Ngaret Masih Melekat di Indonesia

"Budaya ngaret atau suka menunda waktu seolah menjadi ciri khas di Indonesia. Simak 5 alasan mengapa kebiasaan terlambat ini masih sulit dihilangkan."
Budaya ngaret atau suka menunda waktu seolah menjadi ciri khas di Indonesia. Simak 5 alasan mengapa kebiasaan terlambat ini masih sulit dihilangkan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Istilah “jam karet” atau ngaret sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.

Berbeda dengan negara-negara maju seperti Jepang yang sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu bahkan untuk keterlambatan 5 menit sekalipun, di Indonesia, datang terlambat 15 hingga 30 menit sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah atau dimaklumi.

Fenomena sosial ini tentu tidak muncul tanpa sebab.

Berikut adalah 5 alasan mengapa Indonesia masih memelihara budaya ngaret atau suka menunda waktu:

Baca Juga: Terlambat 5 Menit karena Macet, Menteri Jepang Berlari ke Rapat Kabinet dan Minta Maaf ke Publik

1. Faktor Geografis dan Kondisi Lalu Lintas

Alasan yang paling klasik dan sering digunakan adalah kemacetan.

Di kota-kota besar, kecelakaan mendadak atau proyek jalan sering kali membuat waktu tempuh menjadi tidak terprediksi.

Hal ini menciptakan pola pikir bahwa berangkat lebih awal pun belum tentu menjamin sampai tepat waktu, sehingga banyak orang akhirnya memilih untuk “pasrah” dengan kondisi jalanan.

2. Budaya “Sungkan” dan Toleransi yang Terlalu Tinggi

Masyarakat Indonesia dikenal memiliki rasa toleransi dan rasa sungkan yang sangat besar.

Ketika seseorang terlambat, orang yang menunggu biasanya cenderung memaklumi agar tidak merusak suasana atau menjaga perasaan pihak yang terlambat.

Sayangnya, toleransi yang berlebihan ini justru membuat si pelanggar waktu merasa tidak memiliki konsekuensi sosial yang berat, sehingga kebiasaan tersebut terus berulang.

3. Persepsi Waktu yang Fleksibel (Polychronic Time)

Secara sosiologis, banyak masyarakat Indonesia menganut konsep waktu polychronic, di mana waktu dianggap mengalir secara fleksibel dan manusia bisa melakukan banyak hal secara bersamaan.

Berbeda dengan budaya barat yang melihat waktu sebagai garis lurus (monochronic) dan sakral, di Indonesia hubungan antarmanusia sering kali dianggap lebih penting daripada sekadar angka di jam tangan.