Inflasi Tahunan Kalimantan Barat Tembus 3,90 Persen, Tarif Listrik Jadi Pemicu Utama

"PS mencatat inflasi tahunan Kalimantan Barat pada Februari 2026 mencapai 3,90 persen. Tarif listrik menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar."
PS mencatat inflasi tahunan Kalimantan Barat pada Februari 2026 mencapai 3,90 persen. Tarif listrik menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, SINTANG  – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat mencatat inflasi tahunan (year on year) pada Februari 2026 sebesar 3,90 persen.

Angka ini mencerminkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,53 pada Februari 2025 menjadi 109,65 pada Februari 2026.

Kepala BPS Kalimantan Barat, Muhammad Saichudin, menyatakan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sintang sebesar 5,12 persen, sementara Kota Pontianak mencatat inflasi terendah di angka 3,44 persen.

Dilansir dari Pontianak Post, inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran.

Baca Juga: Transisi BUMDAM dan Pemenuhan Hak Pekerja: Bupati Sintang Tuntut Evaluasi Perumda Tirta Senentang

Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencapai 19,12 persen.

Muhammad Saichudin menjelaskan bahwa sektor ini memberikan andil paling signifikan terhadap kenaikan harga secara umum.

“Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil sebesar 2,24 persen. Hal ini terutama dipicu oleh kenaikan tarif listrik yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi,” ujar Saichudin.

Selain energi, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang inflasi sebesar 0,56 persen, diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,93 persen.

Beberapa komoditas yang turut menyumbang inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, beras, ikan kembung, bawang merah, telur ayam ras, hingga mobil.

“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan,” kata Saichudin.

Ia juga menekankan bahwa fluktuasi harga pada sektor pangan dan energi tetap menjadi faktor dominan dalam pergerakan ekonomi di wilayah tersebut.