Lifestyle  

Berapa Lama Tidur Siang yang Disarankan Saat Sakit? Ini Penjelasan Sains

"Tidur siang saat sakit sangat penting untuk pemulihan, namun durasinya tidak boleh sembarangan. Simak durasi tidur siang yang disarankan menurut sains di sini. "
Tidur siang saat sakit sangat penting untuk pemulihan, namun durasinya tidak boleh sembarangan. Simak durasi tidur siang yang disarankan menurut sains di sini. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Saat tubuh sedang terserang penyakit, rasa kantuk biasanya datang lebih sering dan berat dari biasanya.

Ini adalah cara alami tubuh untuk memerintahkanmu beristirahat total agar energi bisa difokuskan sepenuhnya untuk melawan infeksi.

Tidur siang sering kali menjadi pelarian terbaik untuk mempercepat proses pemulihan.

Namun, banyak yang bertanya-tanya, apakah tidur siang saat sakit boleh dilakukan berjam-jam? Sains memiliki jawaban tersendiri mengenai durasi tidur siang yang ideal agar kamu mendapatkan manfaat maksimal tanpa merasa pening saat terbangun.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Hidup Buruk Pemicu Sakit Jantung di Usia Muda yang Sering Diabaikan

Berikut adalah panduan durasi tidur siang yang disarankan menurut sains bagi orang yang sedang dalam masa pemulihan:

1. Tidur Siang Singkat (Power Nap): 20-30 Menit

Jika kamu hanya merasa sedikit tidak enak badan atau kelelahan, tidur siang selama 20 hingga 30 menit sangat direkomendasikan.

Durasi ini cukup untuk memberikan kesegaran pada sistem saraf tanpa membuatmu masuk ke fase tidur dalam.

Menurut sains, tidur singkat ini membantu meningkatkan kewaspadaan dan suasana hati tanpa menyebabkan sleep inertia perasaan linglung atau pening saat terbangun.

2. Satu Siklus Tidur Penuh: 90 Menit

Saat sakitmu terasa lebih berat, seperti flu atau demam, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk memperbaiki sel yang rusak. Sains menyarankan durasi sekitar 90 menit.

Mengapa? Karena 90 menit adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan tubuh untuk menyelesaikan satu siklus tidur penuh, mulai dari tidur ringan hingga tidur dalam (deep sleep).

Bangun di akhir siklus ini cenderung membuat tubuh merasa lebih bugar dibandingkan bangun di tengah-tengah siklus.