Faktakalbar.id, KOLOMBO – Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, secara resmi mengumumkan bahwa negara kepulauan tersebut akan mengambil alih kapal bantu Iran, IRINS Bushehr (A 422), beserta seluruh awaknya demi menjaga netralitas negara sekaligus menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, jumat (6/3/2026).
Baca Juga:Â Kapal Selam AS Torpedo Kapal Iran di Sri Lanka, 80 Pelaut Tewas
Keputusan darurat ini diambil menyusul insiden penenggelaman kapal fregat Iran, IRIS Dena, oleh kapal selam nuklir Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menggunakan torpedo Mark 48 di lepas pantai Galle pada dini hari, Rabu (4/3/2026).
Pasca-insiden mematikan tersebut, kapal IRINS Bushehr yang salah satu mesinnya dilaporkan mengalami kerusakan, langsung meminta izin darurat untuk memasuki Pelabuhan Kolombo.
Sebelumnya, rombongan kapal Iran ini memang telah menjadwalkan permintaan izin masuk pelabuhan pada tanggal 9 hingga 13 Maret.
Setelah melalui proses negosiasi antara Kementerian Luar Negeri Sri Lanka dan perwakilan Iran, diputuskan bahwa kapal IRINS Bushehr tidak akan disandarkan di Pelabuhan Kolombo yang padat aktivitas.
Kapal sepanjang 107 meter itu akan dialihkan ke Pelabuhan Trincomalee di wilayah timur laut.
Sebagai langkah awal perlindungan, Angkatan Laut Sri Lanka memulai operasi penyelamatan untuk memindahkan 208 awak kapal IRINS Bushehr menuju Kolombo.
Awak tersebut terdiri dari 53 perwira, 84 perwira kadet, 48 pelaut senior, dan 23 pelaut biasa. Kapal tersebut baru akan ditarik ke Trincomalee dengan bantuan personel Sri Lanka setelah seluruh awak berhasil dievakuasi.
Baca Juga:Â Prabowo Kirim Surat Duka Cita Wafatnya Khamenei ke Presiden Iran
Sementara itu, terkait tenggelamnya kapal IRIS Dena, Angkatan Laut India turut merilis pernyataan mengenai operasi Pencarian dan Penyelamatan (SAR).
Panggilan darurat dari IRIS Dena awalnya diterima oleh MRCC Kolombo pada 4 Maret 2026 dini hari saat kapal beroperasi sekitar 20 mil laut di sebelah barat Galle.
Merespons hal itu, Angkatan Laut India mengerahkan pesawat patroli maritim jarak jauh P-8I, serta memberangkatkan kapal INS Tarangini dan INS Ikshak ke lokasi guna membantu proses pencarian korban yang dipimpin oleh pihak Sri Lanka.
Operasi ini murni dilakukan sebagai tindakan kemanusiaan bagi personel yang menjadi korban kapal karam.
Dari pantauan citra satelit terbaru, terlihat adanya tumpahan minyak di sekitar titik lokasi yang diduga sebagai tempat tenggelamnya IRIS Dena.
Adapun rombongan kapal angkatan laut Iran tersebut diketahui tengah dalam perjalanan kembali setelah menghadiri kegiatan Tinjauan Armada Internasional dan Latihan MILAN yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut India.
Langkah evakuasi oleh Sri Lanka ini diharapkan dapat mengamankan sisa armada laut Iran agar tidak mengalami nasib serupa di tengah berlangsungnya Operasi Epic Fury yang dilancarkan militer AS.
(FR)












