Faktakalbar.id, PONTIANAK – Ikan tapah (Wallago attu), pemangsa berukuran raksasa yang menghuni perairan sungai besar di Kalimantan, kini menjadi sorotan karena nilai ekonominya yang sangat fantastis hingga bisa menembus puluhan juta rupiah per ekor.
Baca Juga:Â Optimalisasi Layanan, Karantina Kalbar Dukung Ekspor Produk Hewan ke Sarawak
Karantina Kalimantan Barat pun turut menyoroti dan mengawal ketat lalu lintas pemanfaatan komoditas unggulan ini, jumat (6/3/2026).
Ikan air tawar raksasa yang masuk dalam keluarga lele-lelean (Siluridae) ini diketahui mampu tumbuh secara masif dengan panjang mencapai dua meter dan berat maksimal menyentuh 100 kilogram.
Karena ukurannya yang luar biasa besar dan wujudnya yang menyeramkan, predator ganas berjuluk Giant River Catfish ini kerap kali mewarnai berbagai legenda lokal masyarakat pesisir sungai di Kalimantan.
Di balik sosoknya yang fenomenal, ikan tapah menyimpan nilai ekonomi yang sangat menggiurkan.
Di pasar domestik, komoditas ini dibanderol dengan harga berkisar antara Rp100.000 hingga Rp240.000 per kilogram. Jika diakumulasikan, satu ekor ikan tapah dengan berat maksimal 100 kilogram dapat menghasilkan nilai jual mencapai Rp24.000.000.
Tak hanya eksis di pasar lokal, ikan ini juga menjadi primadona di pasar luar negeri. Di Malaysia, harga ikan tapah ditaksir mencapai RM 25 hingga RM 60 per kilogram.
Besarnya potensi pendapatan yang ditawarkan membuat spesies air tawar ini menjadi salah satu komoditas tangkapan incaran utama bagi para nelayan di pedalaman Kalimantan.
Menyikapi tingginya permintaan pasar dan nilai strategis ikan tersebut, Karantina Kalimantan Barat menyatakan komitmennya untuk terus mengawal tata niaga dan pemanfaatan sumber daya alam ini.
Baca Juga:Â Syarat Melintas, Karantina Kalbar Wajibkan Hewan Kesayangan Lolos Uji Titer Rabies
Pengawalan tersebut bertujuan untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat lokal sekaligus memastikan aktivitas perdagangan tetap mematuhi regulasi dan standar internasional yang berlaku.
Meski memiliki prospek ekonomi yang sangat cerah, pemerintah dan Karantina Kalimantan Barat mengimbau seluruh pihak dan nelayan untuk tetap memperhatikan aspek pelestarian lingkungan.
Masyarakat diajak untuk bersama-sama menjaga habitat perairan raksasa sungai ini agar keseimbangan rantai makanan dan ekosistem sungai di Kalimantan tidak terancam punah.
(FR)
















