Gugat Dominasi Patriarki, Gemawan Soroti Nasib Perempuan Pengelola Alam yang Terhapus Administrasi

"Gemawan soroti ketimpangan struktural yang dihadapi perempuan petani di Kalbar. Mulai dari label IRT di KTP yang menghambat hak akses lahan hingga dominasi patriarki dalam narasi publik. "
Gemawan soroti ketimpangan struktural yang dihadapi perempuan petani di Kalbar. Mulai dari label IRT di KTP yang menghambat hak akses lahan hingga dominasi patriarki dalam narasi publik. (Dok. Gemawan)

Melawan Narasi “Kesedihan” di Media

Selain hambatan struktural, cara media memotret isu perempuan dan alam juga dikritik tajam.

Siti Salbiyah dari Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) menegaskan bahwa selama ini pemberitaan cenderung mengeksploitasi kesedihan tanpa menawarkan solusi.

“Isu SDA dan perempuan seringkali hanya mengangkat sisi kesedihannya saja. Padahal di balik konflik lahan, ada cerita ketangguhan yang bisa menjadi narasi perlawanan untuk menekan kebijakan yang merusak,” tegas Siti.

Menurutnya, narasi yang jujur dan berpihak memiliki kekuatan untuk menghentikan izin-izin eksploitasi yang serampangan di Kalimantan Barat.

Gerakan Kolektif dan Peran Anak Muda

Direktur Gemawan, Laily Khainur, menegaskan bahwa membicarakan gender dalam pengelolaan alam adalah bicara tentang keadilan mendasar.

Ia mengajak generasi muda untuk keluar dari cara berpikir lama dan membawa kreativitas dalam isu lingkungan.

“Orang muda harus mengambil peran, membawa perlawanan sebagai bentuk seni dan kreativitas ke dalam isu-isu lingkungan,” pungkas Laily.

Diskusi ini menjadi refleksi penting bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kemenangan-kemenangan kecil perempuan dalam mempertahankan kebun kolektif adalah bukti nyata kedaulatan yang harus terus disuarakan melalui narasi yang kuat.

Baca Juga: Peringati Hari Pohon, Golden Tulip Pontianak Gandeng Gemawan Hijaukan SMPN 10 Pontianak

(Mira)