Terancam Digusur Ekskavator Tambang Ilegal, Warga Temukan Situs Megalitikum di Poso

Situs megalitikum yang ditemukan warga di dalam wilayah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Dongi-Dongi, Poso
Situs megalitikum yang ditemukan warga di dalam wilayah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Dongi-Dongi, Poso. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, POSO – Seorang warga Desa Dongi-Dongi, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, melaporkan penemuan sebuah Situs Megalitikum di Poso.

Benda purbakala tersebut ditemukan tepat berada di kawasan pertambangan emas ilegal yang masuk dalam cakupan wilayah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Baca Juga: Gahar di Laut, TNI AL Pamer Otot Tempur dan Sitaan Tambang Ilegal Rp173 Miliar

Penemuan benda bersejarah tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah dan disebarluaskan melalui akun Facebook bernama Antun Lawani Mosiang pada hari Kamis.

Dalam rekaman visual tersebut, terlihat jelas keberadaan sebuah batu berukuran besar yang memiliki pahatan menyerupai struktur wajah manusia.

Bentuk pahatan purba ini dinilai memiliki kemiripan fisik dengan arca batu kalamba yang memang banyak ditemukan di kawasan Lembah Napu.

“Salam budaya. Saya sekarang berada di area tambang Dongi-Dongi. Ini daerah perendaman ini. Jadi saya ada temukan sangat unik. Ini ada gambar wajah manusia di batu ini. Seperti yang di Napu,” kata warga tersebut dalam video, Kamis (5/3/2026).

Temuan Situs Megalitikum di Poso ini seketika menjadi sorotan publik lantaran lokasinya berada tepat di area rawan yang dikuasai oleh aktivitas pertambangan.

Lahan tempat batu tersebut bersandar disebut-sebut akan segera digali secara paksa menggunakan alat berat.

Bahkan, di sekitar titik lokasi temuan sudah terdapat area perendaman material tanah yang dipersiapkan untuk diolah menjadi emas.

“Ini ada beberapa biji temuan ini hari yang baru. Ini kalau bisa diadakan bagaimana ya, penyelamatan atau bagaimana bahasanya. Karena ini calon mau digali semua ini, mau digali ekskavator ini,” katanya.

Warga yang merekam keberadaan situs tersebut mengungkapkan kekhawatirannya atas kelangsungan nasib benda cagar budaya itu.