Ironisnya, di saat yang bersamaan, dalih moralitas tersebut kerap menutupi isu-isu krusial yang menyangkut hajat hidup dan kesejahteraan orang banyak.
3. Menjadikan Generasi Muda Sebagai Kambing Hitam
Kritikan paling menonjol dalam lagu ini adalah bagaimana anak muda sering kali dijadikan pihak yang disalahkan atas carut-marutnya sistem negara.
Lirik repetitif yang berbunyi “Salah kami lagi” merepresentasikan kelelahan mental generasi millennial dan Gen Z.
Ketika stabilitas ekonomi berantakan atau terjadi disrupsi, pemuda sering dicap tidak kompeten, nirguna (tidak berguna), atau sekadar menjadi korban dari internet economy.
Penguasa seolah cuci tangan dan dengan mudahnya menimpakan beban kesalahan pada generasi penerus.
4. Stigmatisasi dan Pembungkaman Suara Kritis
Lomba Sihir juga menyoroti cara kotor dalam membungkam kritik melalui lirik “PKI radikalisasi”.
Ini adalah potret nyata di mana oknum atau kelompok tertentu sering memberikan stigma negatif kepada siapa pun yang berani berseberangan pendapat dengan pemerintah.
Label “radikal” atau tuduhan tak berdasar lainnya sering digunakan sebagai senjata ampuh untuk mematikan karakter masyarakat sipil yang bersuara kritis, membuat ruang kebebasan berpendapat terasa semakin menyempit.
Musik memang selalu menjadi medium yang efektif untuk merekam jejak zaman.
Lewat lagu “Nirlaba”, Lomba Sihir membuktikan bahwa anak muda tidak buta huruf secara politik; mereka mengamati, peduli, dan berani melawan kelindan kekuasaan melalui karya yang elegan.
Baca Juga: Sering Merasa Sensitif atau Cengeng di Sore Hari? Ini 5 Penyebab Umumnya
(Mira)
















