Banjir di Pasuruan Rendam 16 Desa dan Berdampak pada 3.077 KK

BPBD Kabupaten Pasuruan melakukan penanganan di lokasi terdampak banjir yang melanda sejumlah desa di sembilan Kecamtan, sejak Senin (2/3). (Dok. BPBD Kab. Pasuruan)
BPBD Kabupaten Pasuruan melakukan penanganan di lokasi terdampak banjir yang melanda sejumlah desa di sembilan Kecamtan, sejak Senin (2/3). (Dok. BPBD Kab. Pasuruan)

Baca Juga: Hujan Deras Enam Jam Picu Sungai Meluap, Ratusan Jiwa Terdampak Banjir di Jember

Berdasarkan data resmi kedaruratan, dampak dari kejadian banjir tersebut menjangkau 16 desa yang tersebar di sembilan kecamatan berbeda di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Total keseluruhan warga yang terdampak oleh genangan air ini mencapai angka 3.077 Kepala Keluarga (KK).

Menindaklanjuti kondisi darurat tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan langsung mengerahkan tim reaksi cepat guna melakukan proses asesmen di lapangan serta berkoordinasi secara intensif dengan berbagai pihak terkait dalam upaya penanganan tanggap darurat bencana.

Memasuki hari Selasa (3/3/2026), perkembangan situasi penanganan banjir di Pasuruan menunjukkan adanya tren perbaikan yang positif. Sejumlah wilayah, seperti Desa Prodo, Desa Menyarik, Desa Tambakan, Desa Kalianyar, dan Desa Sidogiri, dilaporkan mulai mengalami penurunan debit air secara bertahap.

Namun demikian, di beberapa titik wilayah lainnya, genangan air masih terpantau merendam area permukiman dengan tinggi muka air yang bervariasi, yakni berkisar antara 5 sentimeter hingga 120 sentimeter.

Baca Juga: Laporan Bencana BNPB: Puting Beliung Landa Tapin, 61 KK Terdampak Banjir di Malang

Insiden kebencanaan di Provinsi Jawa Timur ini merupakan bagian dari rentetan kejadian yang dicatat secara nasional oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dalam laporan perkembangan situasi bencana di Tanah Air yang dihimpun oleh Direktorat Koordinator Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) hingga Rabu (4/3/2026) pukul 07.00 WIB, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan cuaca ekstrem memang dipastikan masih menjadi peristiwa yang paling mendominasi dan banyak terjadi di sejumlah daerah.

Menyikapi tingginya potensi bahaya hidrometeorologi basah di sejumlah wilayah Indonesia, BNPB secara resmi mengimbau seluruh jajaran pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan operasional.

Pemerintah daerah juga diminta untuk memastikan setiap instrumen sistem peringatan dini berfungsi secara optimal, serta terus memperkuat garis koordinasi dan penyebarluasan informasi terkait prakiraan cuaca kepada masyarakat luas.

Lebih lanjut, masyarakat juga diminta untuk selalu tetap bersikap waspada dan segera melakukan langkah-langkah antisipatif apabila terjadi hujan lebat yang berkepanjangan atau terpantau adanya kenaikan tinggi muka air sungai di lingkungan sekitar.

Khusus bagi warga yang sedang beraktivitas di luar ruangan ketika turun hujan deras yang disertai angin kencang, masyarakat sangat diimbau untuk menjauhi area pohon-pohon besar yang berpotensi tumbang.

Guna mendukung percepatan berbagai upaya mitigasi di tingkat tapak tersebut, BNPB mendorong optimalisasi pemanfaatan jejaring komunikasi di tengah masyarakat.

Penggunaan sarana komunikasi digital seperti grup aplikasi WhatsApp dan siaran radio handheld transceiver yang dikelola langsung oleh unit BPBD hingga menjangkau lapisan pemerintahan di tingkat kecamatan dan desa, dinilai menjadi instrumen yang sangat krusial serta efektif dalam menyampaikan peringatan dini hidrometeorologi.

(*Red)