IRGC Iran Resmi Lakukan Penutupan Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia yang kini berada dalam ancaman penutupan akibat ketegangan Iran dan Amerika Serikat. Foto: Shutterstock
Selat Hormuz. (Dok. Shutterstock)

“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” kata Jabari saat memberikan keterangan resminya kepada stasiun penyiar Al-Mayadeen.

Eskalasi konflik bersenjata ini memuncak pada hari yang sama, ketika pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara.

Gempuran militer koalisi tersebut menyasar sejumlah target strategis di dalam negeri Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran. Agresi militer tersebut dilaporkan tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur fisik yang parah, tetapi juga menimbulkan jatuhnya korban dari kalangan sipil.

Sebagai langkah balasan atas serangan tersebut, militer Iran merespons keras. Teheran langsung meluncurkan gelombang serangan rudal balasan yang diarahkan langsung ke wilayah kedaulatan Israel.

Tidak hanya itu, militer Iran juga secara spesifik menargetkan sejumlah infrastruktur serta pangkalan militer milik Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah.

Menyikapi rentetan serangan udara mematikan ini, perwakilan resmi dari pihak IRGC memberikan peringatan tajam kepada pihak musuh.

Pihak IRGC menyatakan secara tegas bahwa negara Israel telah “salah perhitungan” dengan berani menyerang wilayah Iran secara langsung. Kesalahan perhitungan ini kini berujung pada aksi pembalasan dan penutupan Selat Hormuz.

Baca Juga: TV Pemerintah Iran Konfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Teheran Lancarkan Rudal Balasan

Selain memicu ketegangan regional, eskalasi militer ini juga langsung berdampak pada aktivitas sipil domestik di Iran. Mengutip pernyataan resmi dari Kementerian Pendidikan Iran, kantor berita ISNA melaporkan bahwa otoritas setempat telah mengambil langkah darurat untuk sektor pendidikan.

Seluruh sekolah di penjuru Iran telah ditutup secara fisik atau untuk sementara waktu dialihkan ke sistem pembelajaran daring (online). Kebijakan ini diberlakukan secara ketat demi menjamin keselamatan warga negara di tengah ancaman serangan udara dari AS dan Israel.

(*Red)